Belajar Seumur Hidup

1516547082191

Dulu saat kuliah seringkali guru-guru saya berpesan, “Kedokteran itu ilmunya terus berkembang, jadi kita harus terus belajar seumur hidup”.

Tanggapan saya saat kuliah: “Wah guru saya bijak sekali. Siap Dok, saya akan belajar terus.”

Tanggapan saya saat lulus dan praktek dokter umum: “What? Gada waktu, uda cape jaga malem terus.” Ketemu suami aja jarang, masa waktunya dipake buat “pacaran” sama jurnal penelitian. Tapi kemudian saya bertemu kasus-kasus yang jarang ditemui, yang mengharuskan saya untuk belajar lagi. Iya, saya pun belajar lagi.

Saat saya memilih menjadi ibu rumah tangga pun tidak lepas dari kewajiban belajar ilmu kedokteran. Saya suka dapet “pe-er” dari orangtua saya. “Di, tolong liatin kandungan obat herbal A donk, mau beli nih dari temen, aman ga?” Okeh siap. Atau “Di, video ini bener ga?” Biasanya judulnya semacam “10 manfaat buah A yang tidak Anda ketahui”. Ini agak pe-er sih, karena saya mesti ngecek tiap point. “Hebat”nya video-video semacam ini adalah, fakta dan mitos dicampur sedemikian rupa sehingga terkesan semuanya fakta. Ini juga berlaku pada pesan broadcast lewat WA. Gemes banget rasanya kalo uda dapet broadcast semacam “Menakjubkan! Buah A Dapat Menyembuhkan Kanker”. Prinsip saya sih selalu hati-hati bacanya, mesti cek n ricek, ga langsung percaya, langsung ngebantah juga ga, cek dulu. Apalagi artikel-artikel yang isinya sejuta klaim (ga sejuta juga sih), waspadalah, waspadalaaah!

Kalo yang request orang tua saya, saya cukup semangat belajar lagi, baca berbagai jurnal penelitian terbaru. Biarpun cukup membuat otak yang uda karatan ini ngebul-ngebul. Abis itu diskusi deh sama mereka. Nah, kalo broadcast ini nih, bingung saya. Pernah beberapa kali ngecek, dan ternyata isinya banyakan ga validnya. Saya sampaikan ke grup WA tersebut, dan saya sukses….dikacangin. Dan beberapa waktu berikutnya broadcast semacam itu tetap berdatangan. Saya cek lagi, saya sampaikan dan sukses lagi. Iya, sukses dikacangin.

Dan batin saya pun berdiskusi.
Diana 1: Gada juga yang minta lu ngecek Di, geer amat lu!
Diana 2: Iya tapi kan gw sebagai orang yang punya ilmunya dan uda ngecek dan tau itu SALAH, wajib donk gw ngasitau biar pada ga terjerumus HOAX.
Diana 1: Terus? Lu dikacangin kan? Ganggu deh lu sok2 ngebenerin.
Diana 2: Tapi kan menyampaikan kebenaran itu wajib. Biarpun kesannya dikacangin, kalo ada yang baca dan pesan gw nyampe alhamdulillah. Biarpun pesan gw cuma sampe ke 1 orang.
Diana 1: Urus aja urusan lu sendiri.
Diana 2: Hayati lelah.
Dan saya pun ga pernah lagi memberitahukan hasil pengecekan saya ke grup-grup tersebut. Kecuali kalo orangnya bertanya langsung itu bener ga. Dengan senang hati saya jelaskan.

Ini baru 1 ilmu loh. Seiring waktu pun, saya belajar hal-hal lain juga. Jadi istri belajar masak, biar suami makin betah di rumah, dan anak seneng makan di rumah. Belajar financial planning, biar keuangan lebih terencana dan ga boros. Jadi orangtua harus belajar manajemen emosi, belajar perkembangan anak, dll. Saya pun ikut pengajian rutin dan belajar bahasa Arab untuk menambah ilmu agama, karena saya ingin anak saya jadi anak yang soleh. Dan semua ilmu itu penting. Jadi belajar seumur hidup berlaku untuk semua ilmu.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujaadila: 11)

KLB Difteri Indonesia 2017

IMG_7362Keterangan gambar peta Indonesia di atas: warna merah menunjukkan daerah yg mengalami KLB Difteri.

Difteri : Penyakit Lama yang Muncul Kembali

Mengenal Imunisasi DPT dan Penyakit yang Dapat Dicegahnya

2 artikel di atas saya buat tahun lalu (2016). Sedih sekali rasanya tahun ini KLB difteri terjadi lagi, bahkan di hampir seluruh Indonesia. Jika semakin banyak anak yg divaksin, maka anak-anak yg tidak divaksin otomatis terlindungi, ini namanya kekebalan komunitas (herd immunity). Jadi, semakin banyak anak yg tidak divaksin, maka kekebalan komunitas ini hilang.

Buat ibu-ibu yg antivaksin/masih galau mau vaksin anaknya/ga, inikah yg ibu-ibu inginkan? KLB/Kejadian Luar Biasa penyakit Difteri se-Indonesia? Tahukah Ibu betapa mengerikannya penyakit difteri? Anak Ibu bisa mengalami kesulitan bernapas yg berujung pada kematian jika tidak segera mendapat pertolongan medis.

Silahkan Ibu membaca 2 artikel di atas untuk menambah pengetahuan yg benar, bukan hoax. Cari juga sumber bacaan di website yg terpercaya, misalnya www.idai.or.id, www.cdc.gov, emedicine.medscape.com, www.depkes.go.id, www.who.int, sehatnegeriku.kemkes.go.id

Jadi segera lengkapi vaksinasi anak Ibu. Jadwal lengkapnya bisa dilihat di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017 .

Jika vaksinasi sudah lengkap, lebih baik diberikan vaksin lagi sebagai booster (penguat). Rekomendasinya bisa dilihat di http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri

dr.Diana Andarini
Jakarta, 30 November 2017

Jujur Pada Diri Sendiri

Apakah kita sudah jujur pada diri sendiri? Ataukah kita lebih sering membohongi diri sendiri, yg justru membuat masalah kita kompleks?

Kita bisa membohongi orang lain, bahkan membohongi diri sendiri, tapi kita tidak bisa membohongi Allah SWT. Lalu kenapa kita masih membohongi diri?

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” [QS At-Taghaabun: 4]

Saat kita marah, apakah memang demikian? Apakah kita tidak sedang berbohong kepada diri sendiri untuk menutupi kesedihan, kecemasan dan kegelisahan kita?

Saat kita benci, apakah memang demikian? Apakah kita tidak sedang berbohong kepada diri sendiri untuk menutupi iri dan dengki kita?

Saat kita putus asa dan menyerah, apakah memang demikian? Apakah memang demikian? Apakah kita tidak sedang berbohong kepada diri sendiri untuk menutupi “kemalasan” kita?

Jujurlah pada diri sendiri. Allah SWT Maha Mengetahui semua isi hati kita. Jika kita merasa berat, mengadulah kepadaNya, minta kekuatan kepadaNya, dan teruslah berusaha. Bersihkan hati, perbanyak zikir, perbanyak sedekah. Insya Allah hati kita tenang.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [QS Ar-Ra’d: 28]

Tentang “Harga” Diri

Sebagai seorang muslim, saya meyakini bahwa derajat seseorang itu tergantung tingkat ketakwaannya terhadap Allah SWT, dan yg bisa menilai itu hanya Allah SWT. Saya hanya bisa terus beribadah sesuai petunjuk Al Quran dan hadits, sambil berharap amalan saya diterima dan derajat saya tidak turun di hadapan Allah SWT.

Alangkah indahnya dunia kalau saya hanya berharap pada ridho Allah SWT semata. Namun sayangnya, saya belum sampai tahap itu. Saya masih sangat memperdulikan dan mementingkan pendapat orang lain. Saya selalu membandingkan diri saya dengan orang lain yg kondisinya di atas saya. It feels like I’m beating myself, and I feel less valuable.

Kemudian saya membaca artikel ini. JLEB! Ya, yg kurang pada diri saya adalah IKHLAS. Saya yg biasa dengan pujian sejak kecil tanpa sadar menjadikan pujian itu kebutuhan. Kayaknya ada yg kurang gitu kalo ga dipuji. Kalo ga dipuji berarti saya ga berharga. Kalo postingan ga di-like berarti saya ga berharga (emak2 jaman now) Dan sejuta kalau lainnya, yg intinya mengharap pujian manusia. Kalo dipuji manusia, wuih harga diri meroket kyknya. Astagfirullah! Bukan cuma ga ikhlas, ternyata saya juga RIYA.

Ga ikhlas + riya = paket kombo resep nelangsa merasa ga berharga. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Musibah ini buat saya. Tugas saya sekarang BELAJAR IKHLAS dan TIDAK RIYA. Bismillah semoga bisa sebelum waktu saya habis di dunia.

Firman Allah SWT pada surat Al Baqarah ayat 264:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

“Bekal” Akhirat

Hidup selalu berputar seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Saat kita merasa kehidupan “di atas” tidak usah terlalu senang, begitupun saat “di bawah” tidak usah terlalu sedih. Saya lupa baca dimana, kira-kira begini bunyinya: Hidup di dunia seperti persinggahan sementara, ibarat seorang musafir yang sedang berteduh sejenak. Jangan sampai terikat, karena kita menetap di dunia hanya sejenak saja.

Kehidupan yang saat ini sedang “di bawah”, membuat saya merenung, berpikir kembali, “Kita ini hidup untuk apa? Apa yang sebenarnya penting? Apa yang ingin saya capai di dunia dan apakah itu penting?”

Perjalanan Hidup Manusia

Lihat ilustrasi di atas? Hidup di dunia berarti kita baru menempuh ¼ kurang perjalanan. Di satu titik inilah yang menentukan “sisa” ¾ perjalanan kita. Apakah kita akan tersiksa atau bahagia selama ¾ perjalanan sampai tempat tujuan (surga/neraka), ditentukan oleh waktu kita di dunia ini.

Saya termasuk orang yang bekerja tanpa kenal waktu (tuntutan pekerjaan). Bahkan saat awal menikah, saya dan suami jarang berinteraksi. Saat saya berangkat, suami pulang dalam kondisi kelelahan, sering juga sebaliknya. Saat hamil, saya sempat berpikiran untuk kelak menitipkan anak ke orang tua saya, agar saya bisa fokus mengejar karir. Namun, semakin saya mengenal Islam lebih dalam, saya merasa tidak bahagia dengan hidup saya. Saya merasa waktu saya hilang begitu saja.

Menjawab pertanyaan saya sendiri, kita hidup untuk menyembah ALLAH dengan beribadah. Hal yang penting yaitu menyiapkan “bekal” untuk  “sisa” ¾ perjalanan. Apa amalan yang pertama kali dihisab? SOLAT. Perbaiki solat. “Celakalah orang-orang yang solat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap solatnya” [Al-Maun: 4-5] Naudzubillah min dzalik. Jangan sampai saya termasuk orang-orang yang disebutkan pada surat Al-Maun. Sehingga saya berusaha solat wajib di awal waktu (tidak menunda-nunda), berusaha lebih khusyuk, dan mengerjakan solat sunnah (tahajud, dhuha, qabliyah, dll).

Apa lagi yang penting? Tentunya mengamalkan rukun iman dan rukun Islam. Apalagi? Jika saya meninggal kelak (meninggal itu PASTI), saya tidak bisa beribadah lagi. Tapi ada 3 hal yang masi bisa menjadi “bekal tambahan”, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang soleh. Amal jariyah yang seperti apa? Seperti turut serta membangun mesjid, sedekah al-Quran, dll. Selama mesjid/Al-Quran tsb dipakai orang lain, pahala akan mengalir terus ke kita. Ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Bagaimana caranya? Salah satunya dengan mengajar atau menulis artikel/buku yang bermanfaat. Dan terakhir, doa anak soleh. Apakah mudah menjadikan anak saya soleh? Tentu tidak. Saya pun harus belajar agama dengan sungguh-sungguh, agar saya bisa mengajarkan ilmu agama ke anak saya.

Itulah cara saya. Setiap orang punya caranya masing-masing dalam mempersiapkan “bekal” akhirat. Mana yang benar? Selama caranya sesuai dengan Al-Quran dan hadis, insya Allah benar.

Sedikit tapi Sering

Tentu kita sudah sering mendengar istilah “biar sedikit tapi sering”, dalam kegiatan, pekerjaan, ibadah, dll. Sepertinya mudah ya, tapi ternyata membuat sesuatu hal menjadi sering/rutin adalah hal yang cukup sulit. Apalagi saya, yang sering sekali melakukan sesuatu “tergantung mood”. Kalau lagi mood, bisa melakukan bahkan menyelesaikan banyak hal. Tapi kalau lagi ga mood, astagfirullah, mager banget!

Sebenernya yang paling susah awalnya adalah NIAT. Berniat dulu sungguh-sungguh. Kalau niat saja belom, tenggelamkan! ;p Jangan berpikir “ah susah” atau “ntar sajalah kalau mood”. Niat dulu, kalau untuk kegiatan yang baik, insya Allah bermanfaat. Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130) [Sumber

Setelah niat, ya lakukan, MULAI. Besok? Nope, SEKARANG! Kalau ga selesai gimana? Gada yang bilang harus selesai kan? Kerjakan saja dulu. Kalau kata sahabat saya, Kak Rie, 15 menit juga gapapa, yang penting fokus dikerjakan. Kebiasaan kurang baik saya yang lain, kalau lagi mood, kadang suka memforsir biarpun sudah ga fokus, sampai kecapean dan bikin ga mood ngerjain lagi.

Poin yang penting juga yaitu SEDIKIT. Mengerjakan suatu hal dari yang sedikit dulu. Misalnya, solat sunnah dhuha. Mau 12 rakaat supaya Allah bangun rumah untuk kita di surga? Mau banget! Tapiiii biasakan dulu 2 rakaat setiap hari, catet, setiap hari ga pake bolong dan ga ninggalin yang wajib. Kalau sudah berhasil, baru naik 4, 6, 8, kemudian 12 rakaat. Saat ini saya masih di tahap 2 rakaat. “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. [Sumber]

Misalnya lagi, menulis. Mau menulis blog pribadi atau artikel doctormums, pokoknya setiap hari harus menulis minimal 1 paragraf atau selama 30 menit. Koq targetnya kecil amat? Inget di awal, sedikit tapi RUTIN. Saya ibu rumah tangga yang ga dikejar target apapun, jadi suka-suka saya targetnya sekecil apa. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit kan, yang penting rutin. Buktinya, dengan modal “sedikit tapi rutin”, ternyata tulisan ini bisa cepat selesai. Alhamdulillah.

Lalu apakah sekarang saya sudah berhasil mengatasi sifat moody saya? Saya masih dan akan selalu berusaha. Doakan istiqomah yaa!  

Rafa Lulus SI (Sensori Integrasi)

1499833652546Ini foto sekitar 6 bulan lalu, saat Rafa dinyatakan sudah lulus SI (terapi sensori integrasi). Rafa menjalani terapi SI sejak usia 1,5 tahun dengan diagnosis gangguan bahasa ekspresif (yg diagnosis Prof. Hardiono Pusponegoro,SpA). Istilah awamnya telat bicara/speech delay. Mungkin ada yg penasaran, kenapa telat bicara terapinya bukan terapi wicara? Apa hubungannya bicara dengan sensori integrasi?

Saya coba jelaskan sedikit ya (dengan ilmu saya yg terbatas). Bicara dan bahasa merupakan hasil proses yg kompleks. Kalau di hierarki sensori integrasi, bicara dan bahasa ada di puncak. Hierarki terendah yaitu penguasaan 7 indera (bisa dibaca di buku “Keajaiban 7 Indera” dari Rumah Dandelion), terdiri dari 5 indera yang sudah kita ketahui ditambah vestibular dan proprioseptif. Rafa didiagnosis memiliki gangguan pada penguasaan vestibularnya. Proses dasarnya saja belum sempurna, apalagi bicara yg ada di puncak hierarki. Oleh karena itu, Rafa menjalani terapi SI.

Oia, tidak setiap kasus telat bicara penyebabnya gangguan sensori integrasi ya, lebih baik diperiksa oleh ahlinya (dokter anak, dokter rehabilitasi medik, dan psikolog). Saya juga pernah menulis artikel singkat tentang perkembangan bicara anak dan gangguannya, bisa dibaca disini dan disini. Saya bukan ahli sih, cuma mau berbagi sedikit ilmu yg saya punya.

Balik lagi ke foto di atas. Kedua wanita cantik di samping Rafa adalah terapisnya Rafa yg super sabar dan gigih, namanya Tante Vina dan Tante Rinda. Mereka juga sering nyemangatin saya buat ngelatih Rafa di rumah juga, biar perkembangan bicaranya lebih cepet. Setelah terapi selama 2 tahun lebih (umur Rafa sekitar 3,5 tahun) alhamdulillah Rafa lulus terapi SI. Lama? Nope. Kata terapisnya itu termasuk cepet. Kalo kata saya sih lama juga yak, kirain cuma sebulan 2 bulan gitu terapinya *ngarep* Alhamdulillah, Rafa yg tadinya ga bisa bicara satu kata pun, saat itu sudah bisa 200an kata (ini beneran saya itungin) dan mulai bisa merangkai kalimat yg terdiri dari 2-3 kata. Alhamdulillah.

Selesai? Belum, terapi dilanjutkan dengan terapi wicara. Otot-otot bicaranya Rafa kurang kuat, jadi harus dilatih supaya bicaranya lebih jelas. Sebenernya latihannya simpel, kayak meniup, menggigit, gerakin lidah atas bawah kanan kiri kayak senam, dll. Atas anjuran terapis, dokter dan psikolognya, terapi wicara ini saya aja yg melatih Rafa di rumah (home therapy). Tapi setelah dievaluasi, home therapy saja kurang efektif. Kalo kata Tante Yanti (terapis wicaranya), Rafa lebih manja sama saya, jadi susah seriusnya saat home therapy. Saat terapi wicara dengan Tante Yanti juga, alhamdulillah perkembangannya Rafa lebih baik lagi. Terapi wicaranya sudah jalan sekitar 6 bulan. Alhamdulillah Rafa saat ini umur 4 tahun, bicaranya sudah jelas dan bawel banget. Guru-guru di sekolahnya Rafa bilang sepi kalo Rafa ga masuk sekolah, karena Rafa paling bawel di kelasnya.

Selesai? Belum. Rafa terapinya di klinik tumbuh kembang (CMC Kayu Putih), jadi dilihat semua aspek. Kemampuan bicara dan bahasa Rafa alhamdulillah sudah sesuai usianya. Jadi naik level nih Rafa, terapinya yg sekarang untuk kesiapan akademisnya. Jadi nambah terapi okupasi, karena motorik halusnya Rafa masih perlu diasah dan fokusnya perlu dilatih supaya bertahan lebih lama.

Sudah hampir 3 tahun terapi apa ga bosen? Alhamdulillah Rafa masi semangat tuh. Emaknya mesti semangat juga donk. Sesekali ada sih pikiran “ya Allah ini kapan kelarnyaaaa” Selama masih ada rejeki waktu dan tenaga, jalanin aja. Sabar aja. Saya juga sering ngobrol sama ibu-ibu lain di tempat terapinya Rafa, semuanya juga masih sabar dan semangat koq. Alhamdulillah.

Rabu, 14 Juni 2017
Diana Andarini

Semuanya Salah Dokter (Pentingnya Berbaik Sangka)

1499832798271Suatu hari, teman-teman saya bercerita tentang ketidaknyamanan pelayanan medis yg diterima di beberapa tempat dan menyalahkan dokternya. Saya berusaha husnuzhon/berbaik sangka. Dari sudut pandang seorang dokter, dari cerita-cerita tersebut mungkin (saya bilang mungkin karena saya tidak tahu kondisi persisnya) ketidaknyamanan tsb bisa karena minimnya fasilitas di tempat dokter tsb praktek, atau dokternya bersikap hati-hati (daripada nantinya pasien kenapa-kenapa, diobservasi dulu sambil dirawat inap), atau keterbatasan obat yg tersedia, atau memang itu kebijakan klinik/RS, dan yg terakhir mungkin karena salah dokternya.

Mendengar beberapa curhatan teman-teman saya tsb, jujur saya sedih. Sepertinya mudah sekali menyalahkan dokter. But I don’t blame my friends. Mereka bukan tenaga kesehatan, jadi mungkin sulit membayangkan dari sudut pandang dokter. Selain itu, kalau terjadi malpraktek, biasanya beritanya dibesar-besarkan oleh media. Kadang juga dokter tsb tidak malpraktek, tapi komunikasinya yg kurang baik. Tidak bisa dipungkiri ada OKNUM dokter yg “nakal”. Belum lagi kesehatan jadi jualan politik yang maknyus, tapi yg menanggung ga enaknya kalo politikusnya ingkar janji siapa? Dokter. Sedihnya, profesi dokter di Indonesia sering diadu domba dgn pasien. Secara tidak langsung, kepercayaan pasien terhadap dokter berkurang.

Saya pun merasakan menjadi pasien. Saat saya kontrol hamil, pernah dokternya telat, saya harus antri 2 jam lebih, tapi di ruangan hanya diperiksa 15 menit. Kalau saya buruk sangka, uda saya maki-maki dokternya. Tapi tidak saya lakukan. Kebetulan dokter tsb adalah paman saya. Saya tahu, paman saya itu mengajar di rumah sakit pendidikan. Tugasnya banyak, tanggung jawabnya berat, serta sering terjadi hal-hal di luar prediksi. Jadi terlambat praktek bukannya karena sengaja/abis lepe-lepe di rumah. Antri lama karena paman saya itu detil dan sabar sekali memeriksa setiap pasien, pasien-pasiennya pun sering bertanya macam-macam. Loh terus kenapa saya cuma sebentar diperiksanya? Karena alhamdulillah kehamilan saya normal, gada keluhan, kalo ada apa-apa tinggal whatsapp paman saya. Jadi ngapain lama-lama? Hehe.

Contoh lain lagi. Saya antri periksa ke dokter jantung. Wah antrinya lama juga, sekitar 3 jam. Sebelum ngomel, saya liat sekitar saya. Wah lansia semua, sakitnya kayaknya berat-berat ini, belom lagi lansia suka curhat. Saya masih enak nunggu di luar bisa bolak-balik wc, solat, makan dulu. Dokternya? Cuma ke wc 1x, dan blom makan siang, padahal uda lewat jam makan siang.

Saya jadi ingat waktu saya masih praktek di rumah sakit. Kalau pasiennya lagi sedikit, saat istirahat siang saya bisa makan, solat, dll dengan tenang. Kalau pasiennya lagi rame, solat kilat, nahan pipis nahan laper. Nah, yg perjuangan banget kalau jaga malam. Jaga malam bukan berarti siangnya saya tidur kayak beruang lagi hibernasi (I wish), jadi kalau ada waktu untuk tidur sebentar aja, sejam dua jam uda alhamdulillah banget. Ada yg bilang itu risiko pekerjaan. Kalau dokter/perawat tsb adalah keluarga Anda, apakah Anda akan tetap bilang hal yg sama? Saya yakin tidak.

Ada 4 prinsip yang saya pelajari dulu saat sekolah kedokteran: maleficence, beneficence, justice, dan autonomy. Maleficence artinya jangan menambah keburukan pada pasien (kondisi pasien sudah buruk/sakit). Beneficence artinya berbuat kebaikan. Justice artinya keadilan. Autonomy artinya pasien memiliki hak untuk memutuskan. Guru-guru saya berpesan, setiap mau mengobati pasien, jangan lupakan keempat prinsip tersebut. Nah, dari prinsip-prinsip tsb, dokter diajarkan untuk selalu berbuat yg terbaik untuk pasien-pasiennya.

Ada nasehat lain lagi yg saya ingat, yaitu anggap pasien sebagai keluarga sendiri. Jika pasiennya ibu-ibu atau bapak-bapak, anggap orang tua sendiri. Jika pasiennya masih muda, anggap saudara kandung. Jika pasiennya sudah lansia, anggap kakek-nenek sendiri. Pasien dianggap keluarga sendiri loh, pastinya diberikan pelayanan terbaik.

Ya, dokter diajarkan untuk berbuat yg terbaik bagi pasien. Jadi, berbaik sangka dulu terhadap dokter. Kalo ga sreg, tanya langsung ke dokternya, diskusikan ketidaknyamanan Anda. Percayalah, mayoritas dokter itu baik dan berbuat baik terhadap Anda.

dr.Diana Andarini
7 Februari 2017

Note: foto di atas adalah catatan sewaktu saya masih kuliah kedokteran tentang empati, mahasiswa diminta menuliskan sifat-sifat yg harusnya dimiliki seorang dokter

Parenting is Easy?

I read an article. My first reaction was “It (parenting) really doesn’t get better, is it?” Well, from MY experience, it doesn’t. I emphasize the word “my” because I’m a mother of one preschooler, thus my so called experience isn’t that much. The first month after my son born was the toughest, or so I thought. Yes I get much more sleep now compared to then, but often I feel like ready to explode anytime. And I did explode at times. Did it make me a bad mother? I don’t think so. Parenting is mentally exhausted. You can try arguing with a preschooler, do it like a hundred times a day, every single day. Yes I read a lot of parenting article, story, tips, you name it. But it easier said than done.

For example, Rafa (my child) always take off his crayons outer layer, then put it back again, like 10 times before he actually do some drawings (read: make a few strokes-take off outer layer-put back on-repeat). I told him that attitude can break the layer and eventually the crayon. Really? Why would I struggle over crayons? Yes, why? It IS silly. Maybe it’s because the obsessive-compulsive side of me that want perfect order in everything. Maybe it’s just me stressing over my life (I do have my own problems), when will I get to my next to do list if he didn’t finish his drawings/homework. Then, I watch him closely. He looked curious, wait, he IS curious. He is fascinated by how the outer layer changed shape the more he repeating take off-put back on. It looks easy for me, but it is some kind of soft motoric skill practice for him.

Seeing things from my child point of view made me less grumpy about his actions. He is just curious. He is just being a child. I sometimes “forget” it, that demand him to do everything perfectly. But even adults, including me, isn’t perfect.

There’s another example. Lately, Rafa ALWAYS crying and whining whenever my husband go to work. It happens at 5 am until 6 am. My husband doesn’t mad at all, he patiently hugs Rafa and talk to him nicely. What a great husband. Me? I’m not that patient. I always wake up earlier than any of them. Cooking and everything I can do in the morning. That’s not how I want to start my day. See? My goals of perfection slowly killing me. I need to remind myself again and again that it’s okay if it’s not perfect.

Then one day, Rafa wasn’t crying and whining anymore. He almost do “his routine”, but I try to talk to him nicely, calmly, humorously. Yes he’s still whining a bit, but it is tolerable. He’s just missing his very gentle kind humorous dad. His dad is very busy so that he only have limited time at night, when Rafa already prepares to sleep. Rafa’s moody thingy is so much alike me. The one who can calm me is my husband. I need someone who is calm. But I need to be that someone for Rafa when my husband isn’t at home. So I try to be less moody and more calm, it works wonderfully. Footnote: I MUST get minimum 7 hours of night sleep in order to do that. Lol.

So, parenting surely doesn’t get easier. But there’s always a lesson somewhere. Being a better person that my child can look up to. So that Rafa will be pious. Also, when the time is come (in akhira), we’ll be together again in Jannah/heaven. Amiinn ya rabbal alamiin.

Anak-Anak Kita..

Melihat video seorang anak di Suriah yg sangat tegar walaupun ia baru terkena serangan bom, dan kedua orangtuanya entah selamat/tidak, saya jadi berpikir.. Apa yang akan kita katakan kepada Allah di akhirat nanti? Bukankah semua Muslim bersaudara? Anak tersebut adalah anak saudara kita. Apa yang sudah kita lakukan untuk anak-anak Suriah? Apa yang sudah SAYA lakukan? Saya cupu, saya hanya bisa mendoakan dan berdonasi melalui lembaga amil zakat. Hanya itu yang bisa saya lakukan.

Kemudian pikiran saya menuju ke anak saya. Anak yang Allah titipkan ke saya, amanah. Apakah saya sudah menjaga amanahNya dengan baik? Apa saja yang sudah saya ajarkan ke anak saya tentang Allah? Tentang Nabi Muhammad? Tentang Islam?

Memang hidup di dunia penting. Tidak boleh kita hanya beribadah tanpa bekerja. Tapi jangan sampai kita lupa mempersiapkan akhiratnya. Apakah Allah akan bertanya ranking berapa anak kita di sekolahnya? Apakah anak diterima di sekolah unggulan? Jangan sampai anak kita berprestasi secara akademis, tapi melupakan agamanya.

Saya sebagai orang tua adalah seorang Muslim yang jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya terus belajar. Supaya bisa mengajarkan anak saya menjadi Muslim yang baik, yang bertakwa kepada Allah, yang berguna baik orang banyak. Supaya bisa mempertanggungjawabkan kepada Allah di akhirat nanti. Amiinn ya rabbal alamiin.