Kenapa?

Saat saya merasa kalut dengan berbagai kekuatiran akan masa depannya, 

Bagaimana jika ini dan itu menimpanya?

Saat saya merasa bersalah dengan pengasuhan yang saya berikan selama ini, 

Apakah sudah cukup? Apakah banyak yang terlewatkan? 

Kemudian ia menatap saya dengan kedua mata jernihnya, dengan jiwa yang masih suci juga bebas dosa, lalu berkata: “Bunda kenapa? Kenapa sedih? Kuatir kenapa?”

Seolah-olah saya diingatkan lagi, bahwa semua berjalan sesuai kehendak Allah. Semua yang sudah dan akan terjadi pada manusia, sesungguhnya sudah tertulis di lauhul mahfuz 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan olehNya. Tugas kita sebagai hamba, berusaha sebaik mungkin dengan niat lillahi ta’ala.

Seolah-olah saya diingatkan lagi, tidak usah kuatir. Semua kejadian yang menimpa seorang hamba sudah terukur kadarnya, tidak mungkin lebih.

Kemudian ia memegang tangan saya dengan tangan mungilnya, lalu memeluk saya. Seolah-olah meyakinkan lagi, bahwa saya tidak perlu kuatir, ada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 

Review Buku “Tentang Aku”

tentang aku

Baca buku ini jadi inget perjalanannya Rafa. Rafa dulu speech delay, dengan diagnosis gangguan bahasa ekspresif, yang disebabkan gangguan sensori integrasi (-red saat ini disebut SPD/Sensory Processing Disorder). Itu adalah diagnosis dari Prof. Hardiono Pusponegoro, dokter dan pemilik Klinik Anakku. Pusing? Kaget? Bingung? Itu yang saya alami saat pertama kali mendengar istilah-istilah tersebut. Apa pula ini gangguan sensori yang bisa bikin anak ga bisa ngomong? Sensori? Panca indera yang 5? Terus apa hubungannya? 

Setelah konsul dengan Prof. Hardiono, Rafa diobservasi oleh Tante Titi, terapis okupasi di Klinik Anakku. Dalam 1 jam observasinya, Tante Titi bisa “menebak” berbagai masalah sehari-hari Rafa. Saat menjelaskan hasil observasi Rafa, Tante Titi memberikan saya piramida seperti di bawah ini. 

piramida SI

Ternyata sistem sensori ada 8: visual, olfaktori, auditori, gustatori, taktil, vestibular, proprioseptif, dan interoseptif. Kedelapan sistem sensori ini bekerja sama (berintegrasi). Sensori integrasi yang baik itu penting sebagai basic atau pondasi semua skill. Kemampuan bicara dan bahasa itu ada di bagian atas piramida. Jadi gimana anak mau ngomong kalo pondasinya (sensori integrasi) itu masih berantakan? 

Sebelumnya saya cukup sering mendengar sensory play, tapi ga pernah saya perhatikan dengan baik, karena saya kira itu ga penting. Ternyata itu penting sekali. Jaman nenek moyang kita gada istilah sensory play, karena emang mereka main biasa di alam pun otomatis uda sensory play. Generasi sekarang? Anak pertama dikekepin di dalem rumah, bersiiihh, boro-boro main pasir/tanah, keluar sebentar main di rumput aja ibunya parno (saya banget ini). Alhasil si anak kurang stimulasi. TAPI penyebab SPD bukan cuma kurang stimuli, sebaiknya periksa ke ahlinya (dokter tumbuh kembang, rehabilitasi medik, psikolog). Pada kasus Rafa, ternyata Rafa autis ringan, dan 70-80% anak ASD (Autism Spectrum Disorder) mengalami SPD. 

Setelah diagnosis SPD saat Rafa usia 1.5 tahun, maka dilanjutkan dengan terapi SI, terapi wicara, dan terapi okupasi. Saat usia 3 tahun, biidznillah alhamdulillah Rafa mulai lancar bicara. Saat usia 4 tahun sudah catch-up kemampuan bicara dan bahasanya. Saat usia 5-6 tahun, Rafa belajar bahasa Inggris dari youtube sendiri, sampe saya konsul bolak balik ke dokternya, ini gapapa Rafa bilingual? Katanya gapapa selama bahasa ibu (Indonesia) uda ajeg. Saat pemeriksaan kecerdasan di sekolahnya, yang menonjol di Rafa adalah kecerdasan linguistik. MasyaAllah. Memang ya kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. 

Saat ini di usia 7 tahun, Rafa alhamdulillah fasih berbahasa Indonesia dan Inggris, bahkan logatnya jauh lebih bagus daripada saya. Bagaimana SPD-nya? Masih ada, tapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Sama seperti si anak di buku “Tentang Aku” yang pada akhirnya bisa melakukan berbagai kegiatan dengan nyaman. MasyaAllah, alhamdulillah. 

Buat ibu-ibu yang anaknya SPD, buku ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang apa yang dialami anak, dan menjelaskan kepada anak tentang kondisinya. Jazaakumallahu khayran dr. Adilla Hikma dan mba Diani Apsari uda membuat buku ini.

Pantang Menyerah

1543354435182

Pantang menyerah. Lagi-lagi kata yang mudah diucapkan, tapi butuh perjuangan untuk mencapainya. Pantang menyerah dalam hal apa? Kebaikan, terutama yg bernilai pahala. Kalo orang merokok pantang menyerah dalam merokok, padahal jelas-jelas merugikan diri & orang sekitarnya, masa’ yg berjuang dalam kebaikan kalah semangat 🙂

Ada satu hal yg sangat saya syukuri, yaitu saat saya pantang menyerah memberikan terapi untuk Rafa, anak saya. Seperti yg sudah saya ceritakan sebelumnya, Rafa dulu mengalami gangguan sensori integrasi, yg menyebabkan perkembangan bicara dan bahasanya terlambat. Rafa diperiksa oleh dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang dan dokter spesialis rehabilitasi medik di Hermina saat berusia 15-16 bulan. Saat itu Rafa didiagnosis mengalami gangguan sensori integrasi dan gangguan bahasa ekspresif. Saat itu pula “perjalanan” terapi Rafa dimulai.

Kalau dibilang saat yang paling berat adalah saat memulai sesuatu, saya setuju banget. Apalagi saat sesi terapi, Rafa menangis terus. Rasanya pengen berhenti saja terapinya. Tapi saya ingat kata-kata para dokter spesialis yg memeriksa Rafa, juga berbagai literatur yg saya baca, bahwa usia 2-3 tahun pertama anak adalah masa emas (golden period) tumbuh kembang anak. Kalau sudah lewat masa emas, akan lebih sulit bagi anak untuk berkembang. Saya pun menguatkan diri dan terus menyemangati Rafa.

6 bulan berlalu, alhamdulillah ada perubahan pada perilaku dan emosi Rafa, namun tidak ada perubahan yg bermakna pada bicaranya. Saya pun stres karena Rafa sudah berusia 2 tahun. Masa emas-nya tinggal 1 tahun lagi. Saya pun mencari tempat terapi lain, dan banyak yg merekomendasikan Klinik Anakku. Namun antrian disana 2-3 bulan (ini baru ketemu dokternya), kemudian antri lagi untuk jadwal terapinya (sekitar 2-3 bulan juga). Setelah diperiksa Prof.Hardiono, diagnosisnya sama, masih gangguan bahasa ekspresif dengan gangguan sensori integrasi. Sambil menunggu jadwal terapi di Klinik Anakku, Rafa tetap meneruskan terapi di Hermina.

6 bulan kemudian, saat Rafa berusia 2,5 tahun, kata pertama yg bisa Rafa ucapkan yaitu “Bunda”, masya Allah. Namun, tidak ada perkembangan lain yg berarti. Saya juga belum mendapat jadwal terapi Rafa di Klinik Anakku. Saya kontrol ke Prof.Hardiono. Disini saya sempat sangat sedih dan merasa gagal sebagai ibu. Beliau tampak frustasi krn Rafa hanya bisa 1 kata yg jelas, dan belum juga diterapi di Klinik Anakku. Dengan bantuan beliau, Rafa akhirnya mendapat jadwal di Klinik Anakku. Betapa leganya saya saat mulai sesi terapi di Klinik Anakku, Rafa tidak menangis, hanya sesekali merengek. Rafa terlihat bersemangat menjalani terapinya.

6 bulan lagi berlalu, Rafa berusia 3 tahun. Alhamdulillah Rafa mulai menunjukkan perkembangan bahasa dan bicara. Biarpun masi belum jelas pelafalannya, tapi Rafa sudah “bawel”. The doctor even gave his thumbs up (literally). Sepanjang sesi kontrol, Prof.Hardiono tampak lega dan bangga pada Rafa. Pada tahap ini, beliau mempersilahkan jika Rafa ingin berhenti terapi karena perkembangannya sudah baik. Bahkan sempat dibilang bahwa untuk anak seperti Rafa, kemampuan bicara seperti itu sudah “bagus”. Di satu sisi, saya bersyukur bahwa perkembangan Rafa baik, tapi di sisi lain, saya merasa Rafa masih bisa berkembang lagi. Saya dan suami memutuskan untuk melanjutkan terapi Rafa.

6 bulan lagi berlalu, Rafa berusia 3,5 tahun. Saya selalu terharu dan sangat bersyukur setiap mengingat masa-masa ini. 2 tahun setelah terapi, perkembangan bicara dan bahasa Rafa sangat pesat. Saya mulai keteteran mengisi buku catatan kosakata Rafa, saking banyaknya pertambahan kosakata Rafa, alhamdulillah. Oia, saat itu Prof.Hardiono hanya menangani pasien baru dan pasien “sulit”, pasien lainnya dipercayakan ke dr.Selly dan bu Anita. Saat kontrol ke dr.Selly (dokter anak) dan bu Anita (psikolog), mereka tampak takjub dengan perkembangan Rafa. Mereka sangat ramah dan keibuan, Rafa tampak nyaman ngobrol dengan mereka. Mereka kemudian memutuskan bahwa Rafa sudah lulus terapi sensori integrasi. Dan Rafa mulai menjalani terapi wicara di rumah (home therapy), dengan orangtua sebagai “terapis”nya.

3 bulan berlalu, namun perkembangan bicara dan bahasa Rafa dari home therapy kurang optimal. Akhirnya Rafa terapi wicara di Klinik Anakku, dengan terapis Tante Yanti. Seperti terapis lain di Klinik Anakku, Tante Yanti sangat ramah, cepat dekat dgn anak, juga energetik. Adaaa saja idenya Tante Yanti mengajak Rafa mengikuti berbagai latihan yg terus berulang. Alhamdulillah, perkembangan bicara Rafa semakin baik lagi. Setiap kontrol ke dr.Selly dan bu Anita pun, mereka memuji perkembangan Rafa.

Hingga akhirnya, saat Rafa berusia 4,5 tahun, Rafa dinyatakan lulus terapi wicara. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Setelah 3 tahun diterapi, Rafa akhirnya lulus. Dan 3 tahun bukanlah waktu yg singkat, apalagi utk Rafa yg masih balita. Hampir seluruh hidupnya (saat itu) diisi dgn terapi (baik di klinik maupun di rumah). Mengutip dari ig-story @loveshugah, anak itu guru kehidupan, kita bisa belajar banyak melalui anak. Pantang menyerah. Rafa yg masih balita sudah memiliki semangat itu. Masya Allah.

Rafa Lulus SI (Sensori Integrasi)

1499833652546Ini foto sekitar 6 bulan lalu, saat Rafa dinyatakan sudah lulus SI (terapi sensori integrasi). Rafa menjalani terapi SI sejak usia 1,5 tahun dengan diagnosis gangguan bahasa ekspresif (yg diagnosis Prof. Hardiono Pusponegoro,SpA). Istilah awamnya telat bicara/speech delay. Mungkin ada yg penasaran, kenapa telat bicara terapinya bukan terapi wicara? Apa hubungannya bicara dengan sensori integrasi?

Saya coba jelaskan sedikit ya (dengan ilmu saya yg terbatas). Bicara dan bahasa merupakan hasil proses yg kompleks. Kalau di hierarki sensori integrasi, bicara dan bahasa ada di puncak. Hierarki terendah yaitu penguasaan 7 indera (bisa dibaca di buku “Keajaiban 7 Indera” dari Rumah Dandelion), terdiri dari 5 indera yang sudah kita ketahui ditambah vestibular dan proprioseptif. Rafa didiagnosis memiliki gangguan pada penguasaan vestibularnya. Proses dasarnya saja belum sempurna, apalagi bicara yg ada di puncak hierarki. Oleh karena itu, Rafa menjalani terapi SI.

Oia, tidak setiap kasus telat bicara penyebabnya gangguan sensori integrasi ya, lebih baik diperiksa oleh ahlinya (dokter anak, dokter rehabilitasi medik, dan psikolog). Saya juga pernah menulis artikel singkat tentang perkembangan bicara anak dan gangguannya, bisa dibaca disini dan disini. Saya bukan ahli sih, cuma mau berbagi sedikit ilmu yg saya punya.

Balik lagi ke foto di atas. Kedua wanita cantik di samping Rafa adalah terapisnya Rafa yg super sabar dan gigih, namanya Tante Vina dan Tante Rinda. Mereka juga sering nyemangatin saya buat ngelatih Rafa di rumah juga, biar perkembangan bicaranya lebih cepet. Setelah terapi selama 2 tahun lebih (umur Rafa sekitar 3,5 tahun) alhamdulillah Rafa lulus terapi SI. Lama? Nope. Kata terapisnya itu termasuk cepet. Kalo kata saya sih lama juga yak, kirain cuma sebulan 2 bulan gitu terapinya *ngarep* Alhamdulillah, Rafa yg tadinya ga bisa bicara satu kata pun, saat itu sudah bisa 200an kata (ini beneran saya itungin) dan mulai bisa merangkai kalimat yg terdiri dari 2-3 kata. Alhamdulillah.

Selesai? Belum, terapi dilanjutkan dengan terapi wicara. Otot-otot bicaranya Rafa kurang kuat, jadi harus dilatih supaya bicaranya lebih jelas. Sebenernya latihannya simpel, kayak meniup, menggigit, gerakin lidah atas bawah kanan kiri kayak senam, dll. Atas anjuran terapis, dokter dan psikolognya, terapi wicara ini saya aja yg melatih Rafa di rumah (home therapy). Tapi setelah dievaluasi, home therapy saja kurang efektif. Kalo kata Tante Yanti (terapis wicaranya), Rafa lebih manja sama saya, jadi susah seriusnya saat home therapy. Saat terapi wicara dengan Tante Yanti juga, alhamdulillah perkembangannya Rafa lebih baik lagi. Terapi wicaranya sudah jalan sekitar 6 bulan. Alhamdulillah Rafa saat ini umur 4 tahun, bicaranya sudah jelas dan bawel banget. Guru-guru di sekolahnya Rafa bilang sepi kalo Rafa ga masuk sekolah, karena Rafa paling bawel di kelasnya.

Selesai? Belum. Rafa terapinya di klinik tumbuh kembang (CMC Kayu Putih), jadi dilihat semua aspek. Kemampuan bicara dan bahasa Rafa alhamdulillah sudah sesuai usianya. Jadi naik level nih Rafa, terapinya yg sekarang untuk kesiapan akademisnya. Jadi nambah terapi okupasi, karena motorik halusnya Rafa masih perlu diasah dan fokusnya perlu dilatih supaya bertahan lebih lama.

Sudah hampir 3 tahun terapi apa ga bosen? Alhamdulillah Rafa masi semangat tuh. Emaknya mesti semangat juga donk. Sesekali ada sih pikiran “ya Allah ini kapan kelarnyaaaa” Selama masih ada rejeki waktu dan tenaga, jalanin aja. Sabar aja. Saya juga sering ngobrol sama ibu-ibu lain di tempat terapinya Rafa, semuanya juga masih sabar dan semangat koq. Alhamdulillah.

Rabu, 14 Juni 2017
Diana Andarini

Parenting is Easy?

I read an article. My first reaction was “It (parenting) really doesn’t get better, is it?” Well, from MY experience, it doesn’t. I emphasize the word “my” because I’m a mother of one preschooler, thus my so called experience isn’t that much. The first month after my son born was the toughest, or so I thought. Yes I get much more sleep now compared to then, but often I feel like ready to explode anytime. And I did explode at times. Did it make me a bad mother? I don’t think so. Parenting is mentally exhausted. You can try arguing with a preschooler, do it like a hundred times a day, every single day. Yes I read a lot of parenting article, story, tips, you name it. But it easier said than done.

For example, Rafa (my child) always take off his crayons outer layer, then put it back again, like 10 times before he actually do some drawings (read: make a few strokes-take off outer layer-put back on-repeat). I told him that attitude can break the layer and eventually the crayon. Really? Why would I struggle over crayons? Yes, why? It IS silly. Maybe it’s because the obsessive-compulsive side of me that want perfect order in everything. Maybe it’s just me stressing over my life (I do have my own problems), when will I get to my next to do list if he didn’t finish his drawings/homework. Then, I watch him closely. He looked curious, wait, he IS curious. He is fascinated by how the outer layer changed shape the more he repeating take off-put back on. It looks easy for me, but it is some kind of soft motoric skill practice for him.

Seeing things from my child point of view made me less grumpy about his actions. He is just curious. He is just being a child. I sometimes “forget” it, that demand him to do everything perfectly. But even adults, including me, isn’t perfect.

There’s another example. Lately, Rafa ALWAYS crying and whining whenever my husband go to work. It happens at 5 am until 6 am. My husband doesn’t mad at all, he patiently hugs Rafa and talk to him nicely. What a great husband. Me? I’m not that patient. I always wake up earlier than any of them. Cooking and everything I can do in the morning. That’s not how I want to start my day. See? My goals of perfection slowly killing me. I need to remind myself again and again that it’s okay if it’s not perfect.

Then one day, Rafa wasn’t crying and whining anymore. He almost do “his routine”, but I try to talk to him nicely, calmly, humorously. Yes he’s still whining a bit, but it is tolerable. He’s just missing his very gentle kind humorous dad. His dad is very busy so that he only have limited time at night, when Rafa already prepares to sleep. Rafa’s moody thingy is so much alike me. The one who can calm me is my husband. I need someone who is calm. But I need to be that someone for Rafa when my husband isn’t at home. So I try to be less moody and more calm, it works wonderfully. Footnote: I MUST get minimum 7 hours of night sleep in order to do that. Lol.

So, parenting surely doesn’t get easier. But there’s always a lesson somewhere. Being a better person that my child can look up to. So that Rafa will be pious. Also, when the time is come (in akhira), we’ll be together again in Jannah/heaven. Amiinn ya rabbal alamiin.

Anak-Anak Kita..

Melihat video seorang anak di Suriah yg sangat tegar walaupun ia baru terkena serangan bom, dan kedua orangtuanya entah selamat/tidak, saya jadi berpikir.. Apa yang akan kita katakan kepada Allah di akhirat nanti? Bukankah semua Muslim bersaudara? Anak tersebut adalah anak saudara kita. Apa yang sudah kita lakukan untuk anak-anak Suriah? Apa yang sudah SAYA lakukan? Saya cupu, saya hanya bisa mendoakan dan berdonasi melalui lembaga amil zakat. Hanya itu yang bisa saya lakukan.

Kemudian pikiran saya menuju ke anak saya. Anak yang Allah titipkan ke saya, amanah. Apakah saya sudah menjaga amanahNya dengan baik? Apa saja yang sudah saya ajarkan ke anak saya tentang Allah? Tentang Nabi Muhammad? Tentang Islam?

Memang hidup di dunia penting. Tidak boleh kita hanya beribadah tanpa bekerja. Tapi jangan sampai kita lupa mempersiapkan akhiratnya. Apakah Allah akan bertanya ranking berapa anak kita di sekolahnya? Apakah anak diterima di sekolah unggulan? Jangan sampai anak kita berprestasi secara akademis, tapi melupakan agamanya.

Saya sebagai orang tua adalah seorang Muslim yang jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya terus belajar. Supaya bisa mengajarkan anak saya menjadi Muslim yang baik, yang bertakwa kepada Allah, yang berguna baik orang banyak. Supaya bisa mempertanggungjawabkan kepada Allah di akhirat nanti. Amiinn ya rabbal alamiin.

Weaning with LOVE

I always wonder the meaning of “love” in a phrase “weaning with love”. It said that you weaned your child gradually and with affection.

First time I tried to wean my son when he was 2 years old. I follow everything about weaning with love. But it failed. I saw that the process of weaning made my son heartbroken. He cried so much. It also affected his character. He used to be all cheery and happy, but he became cranky and irritable. He changed so much. It went on for more than 2 weeks. Maybe he’s not ready. So I breastfeed him again. For 1 year later I keep trying to weaned my son, but it always failed. Either it made his character changed, or his speech development regressed.

When my son was 3 years old, I try to weaned him again. This time, I really emphasize that I do this not because I don’t love him. He seemed to understand better than he was 2 years old. Every single day me and my husband keep telling my son that we love him sooo much, followed by numerous kisses and hugs. In just 3 months, my son made it. He’s finally weaned.

It finally hit me that weaning is really all about LOVE. When we breastfeeding our child, we keep them really close to us, so they can feel our warmth and comfort. Our child must have felt really loved. When they are weaned, maybe they feel like our love was taken, that we don’t love them anymore. Constant reminder that we love them so much will make the weaning process more bearable for our children. Because of course we will always love them, and they need to know that they will always be loved.