Belajar Seumur Hidup

1516547082191

Dulu saat kuliah seringkali guru-guru saya berpesan, “Kedokteran itu ilmunya terus berkembang, jadi kita harus terus belajar seumur hidup”.

Tanggapan saya saat kuliah: “Wah guru saya bijak sekali. Siap Dok, saya akan belajar terus.”

Tanggapan saya saat lulus dan praktek dokter umum: “What? Gada waktu, uda cape jaga malem terus.” Ketemu suami aja jarang, masa waktunya dipake buat “pacaran” sama jurnal penelitian. Tapi kemudian saya bertemu kasus-kasus yang jarang ditemui, yang mengharuskan saya untuk belajar lagi. Iya, saya pun belajar lagi.

Saat saya memilih menjadi ibu rumah tangga pun tidak lepas dari kewajiban belajar ilmu kedokteran. Saya suka dapet “pe-er” dari orangtua saya. “Di, tolong liatin kandungan obat herbal A donk, mau beli nih dari temen, aman ga?” Okeh siap. Atau “Di, video ini bener ga?” Biasanya judulnya semacam “10 manfaat buah A yang tidak Anda ketahui”. Ini agak pe-er sih, karena saya mesti ngecek tiap point. “Hebat”nya video-video semacam ini adalah, fakta dan mitos dicampur sedemikian rupa sehingga terkesan semuanya fakta. Ini juga berlaku pada pesan broadcast lewat WA. Gemes banget rasanya kalo uda dapet broadcast semacam “Menakjubkan! Buah A Dapat Menyembuhkan Kanker”. Prinsip saya sih selalu hati-hati bacanya, mesti cek n ricek, ga langsung percaya, langsung ngebantah juga ga, cek dulu. Apalagi artikel-artikel yang isinya sejuta klaim (ga sejuta juga sih), waspadalah, waspadalaaah!

Kalo yang request orang tua saya, saya cukup semangat belajar lagi, baca berbagai jurnal penelitian terbaru. Biarpun cukup membuat otak yang uda karatan ini ngebul-ngebul. Abis itu diskusi deh sama mereka. Nah, kalo broadcast ini nih, bingung saya. Pernah beberapa kali ngecek, dan ternyata isinya banyakan ga validnya. Saya sampaikan ke grup WA tersebut, dan saya sukses….dikacangin. Dan beberapa waktu berikutnya broadcast semacam itu tetap berdatangan. Saya cek lagi, saya sampaikan dan sukses lagi. Iya, sukses dikacangin.

Dan batin saya pun berdiskusi.
Diana 1: Gada juga yang minta lu ngecek Di, geer amat lu!
Diana 2: Iya tapi kan gw sebagai orang yang punya ilmunya dan uda ngecek dan tau itu SALAH, wajib donk gw ngasitau biar pada ga terjerumus HOAX.
Diana 1: Terus? Lu dikacangin kan? Ganggu deh lu sok2 ngebenerin.
Diana 2: Tapi kan menyampaikan kebenaran itu wajib. Biarpun kesannya dikacangin, kalo ada yang baca dan pesan gw nyampe alhamdulillah. Biarpun pesan gw cuma sampe ke 1 orang.
Diana 1: Urus aja urusan lu sendiri.
Diana 2: Hayati lelah.
Dan saya pun ga pernah lagi memberitahukan hasil pengecekan saya ke grup-grup tersebut. Kecuali kalo orangnya bertanya langsung itu bener ga. Dengan senang hati saya jelaskan.

Ini baru 1 ilmu loh. Seiring waktu pun, saya belajar hal-hal lain juga. Jadi istri belajar masak, biar suami makin betah di rumah, dan anak seneng makan di rumah. Belajar financial planning, biar keuangan lebih terencana dan ga boros. Jadi orangtua harus belajar manajemen emosi, belajar perkembangan anak, dll. Saya pun ikut pengajian rutin dan belajar bahasa Arab untuk menambah ilmu agama, karena saya ingin anak saya jadi anak yang soleh. Dan semua ilmu itu penting. Jadi belajar seumur hidup berlaku untuk semua ilmu.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujaadila: 11)

KLB Difteri Indonesia 2017

IMG_7362Keterangan gambar peta Indonesia di atas: warna merah menunjukkan daerah yg mengalami KLB Difteri.

Difteri : Penyakit Lama yang Muncul Kembali

Mengenal Imunisasi DPT dan Penyakit yang Dapat Dicegahnya

2 artikel di atas saya buat tahun lalu (2016). Sedih sekali rasanya tahun ini KLB difteri terjadi lagi, bahkan di hampir seluruh Indonesia. Jika semakin banyak anak yg divaksin, maka anak-anak yg tidak divaksin otomatis terlindungi, ini namanya kekebalan komunitas (herd immunity). Jadi, semakin banyak anak yg tidak divaksin, maka kekebalan komunitas ini hilang.

Buat ibu-ibu yg antivaksin/masih galau mau vaksin anaknya/ga, inikah yg ibu-ibu inginkan? KLB/Kejadian Luar Biasa penyakit Difteri se-Indonesia? Tahukah Ibu betapa mengerikannya penyakit difteri? Anak Ibu bisa mengalami kesulitan bernapas yg berujung pada kematian jika tidak segera mendapat pertolongan medis.

Silahkan Ibu membaca 2 artikel di atas untuk menambah pengetahuan yg benar, bukan hoax. Cari juga sumber bacaan di website yg terpercaya, misalnya www.idai.or.id, www.cdc.gov, emedicine.medscape.com, www.depkes.go.id, www.who.int, sehatnegeriku.kemkes.go.id

Jadi segera lengkapi vaksinasi anak Ibu. Jadwal lengkapnya bisa dilihat di http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017 .

Jika vaksinasi sudah lengkap, lebih baik diberikan vaksin lagi sebagai booster (penguat). Rekomendasinya bisa dilihat di http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri

dr.Diana Andarini
Jakarta, 30 November 2017

Semuanya Salah Dokter (Pentingnya Berbaik Sangka)

1499832798271Suatu hari, teman-teman saya bercerita tentang ketidaknyamanan pelayanan medis yg diterima di beberapa tempat dan menyalahkan dokternya. Saya berusaha husnuzhon/berbaik sangka. Dari sudut pandang seorang dokter, dari cerita-cerita tersebut mungkin (saya bilang mungkin karena saya tidak tahu kondisi persisnya) ketidaknyamanan tsb bisa karena minimnya fasilitas di tempat dokter tsb praktek, atau dokternya bersikap hati-hati (daripada nantinya pasien kenapa-kenapa, diobservasi dulu sambil dirawat inap), atau keterbatasan obat yg tersedia, atau memang itu kebijakan klinik/RS, dan yg terakhir mungkin karena salah dokternya.

Mendengar beberapa curhatan teman-teman saya tsb, jujur saya sedih. Sepertinya mudah sekali menyalahkan dokter. But I don’t blame my friends. Mereka bukan tenaga kesehatan, jadi mungkin sulit membayangkan dari sudut pandang dokter. Selain itu, kalau terjadi malpraktek, biasanya beritanya dibesar-besarkan oleh media. Kadang juga dokter tsb tidak malpraktek, tapi komunikasinya yg kurang baik. Tidak bisa dipungkiri ada OKNUM dokter yg “nakal”. Belum lagi kesehatan jadi jualan politik yang maknyus, tapi yg menanggung ga enaknya kalo politikusnya ingkar janji siapa? Dokter. Sedihnya, profesi dokter di Indonesia sering diadu domba dgn pasien. Secara tidak langsung, kepercayaan pasien terhadap dokter berkurang.

Saya pun merasakan menjadi pasien. Saat saya kontrol hamil, pernah dokternya telat, saya harus antri 2 jam lebih, tapi di ruangan hanya diperiksa 15 menit. Kalau saya buruk sangka, uda saya maki-maki dokternya. Tapi tidak saya lakukan. Kebetulan dokter tsb adalah paman saya. Saya tahu, paman saya itu mengajar di rumah sakit pendidikan. Tugasnya banyak, tanggung jawabnya berat, serta sering terjadi hal-hal di luar prediksi. Jadi terlambat praktek bukannya karena sengaja/abis lepe-lepe di rumah. Antri lama karena paman saya itu detil dan sabar sekali memeriksa setiap pasien, pasien-pasiennya pun sering bertanya macam-macam. Loh terus kenapa saya cuma sebentar diperiksanya? Karena alhamdulillah kehamilan saya normal, gada keluhan, kalo ada apa-apa tinggal whatsapp paman saya. Jadi ngapain lama-lama? Hehe.

Contoh lain lagi. Saya antri periksa ke dokter jantung. Wah antrinya lama juga, sekitar 3 jam. Sebelum ngomel, saya liat sekitar saya. Wah lansia semua, sakitnya kayaknya berat-berat ini, belom lagi lansia suka curhat. Saya masih enak nunggu di luar bisa bolak-balik wc, solat, makan dulu. Dokternya? Cuma ke wc 1x, dan blom makan siang, padahal uda lewat jam makan siang.

Saya jadi ingat waktu saya masih praktek di rumah sakit. Kalau pasiennya lagi sedikit, saat istirahat siang saya bisa makan, solat, dll dengan tenang. Kalau pasiennya lagi rame, solat kilat, nahan pipis nahan laper. Nah, yg perjuangan banget kalau jaga malam. Jaga malam bukan berarti siangnya saya tidur kayak beruang lagi hibernasi (I wish), jadi kalau ada waktu untuk tidur sebentar aja, sejam dua jam uda alhamdulillah banget. Ada yg bilang itu risiko pekerjaan. Kalau dokter/perawat tsb adalah keluarga Anda, apakah Anda akan tetap bilang hal yg sama? Saya yakin tidak.

Ada 4 prinsip yang saya pelajari dulu saat sekolah kedokteran: maleficence, beneficence, justice, dan autonomy. Maleficence artinya jangan menambah keburukan pada pasien (kondisi pasien sudah buruk/sakit). Beneficence artinya berbuat kebaikan. Justice artinya keadilan. Autonomy artinya pasien memiliki hak untuk memutuskan. Guru-guru saya berpesan, setiap mau mengobati pasien, jangan lupakan keempat prinsip tersebut. Nah, dari prinsip-prinsip tsb, dokter diajarkan untuk selalu berbuat yg terbaik untuk pasien-pasiennya.

Ada nasehat lain lagi yg saya ingat, yaitu anggap pasien sebagai keluarga sendiri. Jika pasiennya ibu-ibu atau bapak-bapak, anggap orang tua sendiri. Jika pasiennya masih muda, anggap saudara kandung. Jika pasiennya sudah lansia, anggap kakek-nenek sendiri. Pasien dianggap keluarga sendiri loh, pastinya diberikan pelayanan terbaik.

Ya, dokter diajarkan untuk berbuat yg terbaik bagi pasien. Jadi, berbaik sangka dulu terhadap dokter. Kalo ga sreg, tanya langsung ke dokternya, diskusikan ketidaknyamanan Anda. Percayalah, mayoritas dokter itu baik dan berbuat baik terhadap Anda.

dr.Diana Andarini
7 Februari 2017

Note: foto di atas adalah catatan sewaktu saya masih kuliah kedokteran tentang empati, mahasiswa diminta menuliskan sifat-sifat yg harusnya dimiliki seorang dokter