I am a Muslim

In the beginning of one English online lesson, Rafa suddenly said to his teacher “I want to tell you one thing, I’m a Muslim, so I don’t celebrate christmas, halloween, etc, I only celebrate eid ul Fitr, eid ul Adha, and birthday. Please remember that.” And the teacher promised to remember. 

Perhaps you are wondering why on earth Rafa said those things. In his previous English lessons, he learned about holidays around the world, including christmas, halloween, valentine, new years, april’s fools day, etc. The teacher, assuming Rafa also celebrates those holidays, asks what he usually does on those holidays. Rafa was confused and couldn’t answer. I never told him about those holidays, because us Muslim don’t celebrate them.

So, after that lesson, I explained to him about those holidays, and that we don’t celebrate them, because it mimics the kuffar, contain shirk, more mudarah (harms) than maslahah (benefits). We discussed them, and he understood. That’s the background story. He is an 8 year old boy, and he is proud of his identity as a Muslim, and stands firm in his faith, masyaAllah alhamdulillah. May Allah SWT always protects and guides Rafa’s fitrah.

Yuk bisa yuk!

Indonesia sedang mengalami gelombang kedua covid yang luar biasa. IGD antri, ruang isolasi penuh, apalagi ruang ICU. Jumlah pasien baru covid dan kematian hampir setiap hari memecahkan rekor. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..

Untuk kita yang masih sehat.. Sebisa mungkin, sesering mungkin..

Jika terpaksa sekali keluar rumah..

Dan demi mencapai herd immunity, serta melindungi mereka yang tidak bisa divaksin.. Yuk segera..

Yuk kita bisa bersama-sama menghadapi gelombang kedua covid. Saling bantu. Jangan biarkan para tenaga kesehatan yang sudah kelelahan berjuang sendirian. Kita bantu dengan mencegah tertular dan menularkan covid. Bisa #dirumahaja #bersamamelawancovid

Kenapa?

Saat saya merasa kalut dengan berbagai kekuatiran akan masa depannya, 

Bagaimana jika ini dan itu menimpanya?

Saat saya merasa bersalah dengan pengasuhan yang saya berikan selama ini, 

Apakah sudah cukup? Apakah banyak yang terlewatkan? 

Kemudian ia menatap saya dengan kedua mata jernihnya, dengan jiwa yang masih suci juga bebas dosa, lalu berkata: “Bunda kenapa? Kenapa sedih? Kuatir kenapa?”

Seolah-olah saya diingatkan lagi, bahwa semua berjalan sesuai kehendak Allah. Semua yang sudah dan akan terjadi pada manusia, sesungguhnya sudah tertulis di lauhul mahfuz 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan olehNya. Tugas kita sebagai hamba, berusaha sebaik mungkin dengan niat lillahi ta’ala.

Seolah-olah saya diingatkan lagi, tidak usah kuatir. Semua kejadian yang menimpa seorang hamba sudah terukur kadarnya, tidak mungkin lebih.

Kemudian ia memegang tangan saya dengan tangan mungilnya, lalu memeluk saya. Seolah-olah meyakinkan lagi, bahwa saya tidak perlu kuatir, ada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 

Reply Puncak 1990an-2000an

Gegara nonton Reply 1988, judul postnya jadi begini deh. Besok insyaAllah saya mau ajak Rafa ke area Puncak. Seingat saya, ini pertama kalinya saya dan suami ajak Rafa ke Puncak. Rencananya hanya makan siang di OJ Organic Farm, yang bisa disewa 1 hari hanya utk 1 keluarga max. 15 orang. Untuk harga, 150 ribu/orang, yang kalau menurut saya worth the price. Di masa pandemi ini, ajak anak ke tempat yang sepi apalagi private pas weekend itu susah. OJ Organic Farm ini deket banget sama Taman Safari, tapi karena saya liat berita dimana-mana tempat wisata termasuk Taman Safari rame, saya urung pergi. Untuk review OJ Organic Farm insyaAllah menyusul ya.

Dengar kata Puncak, saya teringat masa kecil saya. Kedua orang tua saya sibuk. Saat hari kerja, paling bertemu hanya saat malam. Jadi di saat weekend ataupun liburan panjang, mereka sering mengajak anak-anaknya berlibur, salah satunya ke Puncak. Dulu kami punya sebuah vila di Kota Bunga. Vilanya bergaya Jepang, dan beberapa kali direnovasi karena kayunya sering dimakan rayap dan lembab. Saya ingat ada gazebo-nya yang cukup tinggi. Saya dan adik-adik saya suka bermain peran disitu. Sepeda dan raket bulu tangkis juga tidak ketinggalan dibawa, biarpun saya payah, tapi tetap menyenangkan. Oia, kami juga suka bawa “bekal” komik setumpuk. Jaman dulu hape masih cupu, jadi mesti bawa banyak “bekal” buat hiburan di vila yang tenang.

Ada beberapa “rutinitas” saat kami sekeluarga pergi ke Puncak. Berangkat pagi-pagi dari Jakarta, melewati kebun teh yang berkelok-kelok, kadang saya mabok, tapi paling seneng kalo uda di area kebuh teh karena bisa buka jendela dan udaranya segar banget, masyaAllah. Kadang kalo ga sempet sarapan, mampir ke restoran Puncak Pass. Saya ingat minuman cokelat panasnya enak, dan restorannya kayu-kayu keren gitu. Menjelang siang, biasanya sudah hampir sampai vila, kami mampir untuk makan siang di restoran Ponyo, ayamnya enak buanget. Disitu juga biasanya ada tukang majalah yang menjajakan berbagai buku, majalah dan koran dengan cara berkeliling dari 1 meja ke meja lainnya. Biasanya Papa membelikan saya dan adik-adik saya komik Paman Gober dan majalah Bobo (buat tambahan “bekal”), sementara Papa kadang beli koran atau majalah otomotif, kadang desain interior, kadang tentang berkebun.

Sampai di vila, kami sekeluarga kerja bakti merapikan vila. Mbak di rumah ga dibawa, jadi yang biasanya tinggal teriak “mbak” utk urusan rumah tangga, di vila kami latihan mandiri. Saya inget dulu sempet “siyok” pas harus cuci piring pake air yang dingin banget. But it was fun, because we did it together. Sorenya leyeh-leyeh sebentar, abis itu pergi ke restoran untuk makan malam. Kadang restoran di area komplek vila, kadang keluar. Ada 1 restoran di luar komplek yg saya ingat banget. Restoran yg jual chinese food, dindingnya kaca semua, mejanya juga dempet-dempet, tapi makanannya wah masyaAllah enaaakk. Pulang dari restoran, kami suka mampir ke area mini market di komplek vila. Suka ada yg jual pisang bakar dan jagung bakar. Makan mulu ya, haha, abis udaranya dingin. Kadang juga kami mampir ke mini market utk membeli bbrp keperluan. Jaman dulu blom ada indomaret alfamart, jadi ya mini market seadanya aja. Malamnya biasanya tidur cepet karena tepar.

Paginya, orangtua kami suka ngajak jalan pagi keliling komplek. Komplek vila Kota Bunga itu unik, banyak tema bangunan vilanya. Biasanya kami jalan pagi melewati area vila tema koboi dan Belanda. Kalo lagi semangat, kadang kami jalan agak jauh sampai ke area vila Thailand. Sampai di vila, Mama bikinin sarapan indomi rebus. Buat saya itu uda spesial banget, karena Mama jarang masak. Biasanya yg masak si mbak, atau ya delivery. Indomi kornet bikinan Mama, pakai mangkuk hijau bening, menurut saya yg terbaik.

Setelah itu kami diajak ke taman bermain. Dulu namanya Mini Dufan. Pintu masuknya ada 2 tower, 1 berwajah senang, 1 berwajah sedih. Ada cukup banyak yang bisa dinaiki, bahkan seingat saya ada juga roller coaster mini. Untuk bermain disana, harus menukar uang dengan koin khusus. Kami biasa main sampai koin kami habis, baru keluar areanya soalnya kalo uda keluar mesti bayar lagi untuk masuk. Dan seinget saya, tiket masuknya lumayan mahal, jadi puas-puasin dulu main di dalem. Pas keluar pas jam makan siang. Setelah itu biasanya kami jalan ke area Little Venice. Jadi memang ada danau besar, dan arsitekturnya seperti di Italia. Ada gondola-nya juga kalo ga salah. Dulu areanya masih dibangun, jadi biasanya kami ngider-ngider di komplek vilanya aja. Di area ini vila-vilanya ada yang bertema China dan Eropa. Ah, saya juga ingat ada deretan vila buesar tema Swiss di sepanjang sungai. Seneng aja ngeliat vila-vila berbagai tema.

Sorenya biasanya leyeh-leyeh lagi, lalu makan malam. Setiap cari makanan di restoran luar komplek vila, saya suka melihat pemandangan dari mobil. Lampu-lampu berbagai rumah di kejauhan sangat cantik, dan kadang juga terlihat siluet gunung, juga banyak bintang, masyaAllah. Ada 1 restoran yg berkesan juga, namanya Melrimba Garden. Area food court dengan tembok batu bata, jadi kesannya rustic. Favorit saya toko taneman di sebrang restoran. Seneng aja ngeliat berbagai macam taneman. Kadang juga beli kaktus 1 atau 2, untuk dibawa ke vila. Ya biarpun kaktusnya ga tahan lama sih krn saya kurang telaten ngerawatnya.

Ah saya ingat! Paling sering kami ke Puncak saat liburan akhir tahun. Jadi malam harinya, kami suka ke gazebo sambil liatin kembang api yang biasanya diluncurkan dari berbagai sudut komplek vila tsb. Btw gazebo-nya ini memang dibuat tinggi, supaya bisa melihat pemandangan hampir seluruh komplek vila. Oia, kami juga suka bawa kembang api sendiri, jadi kalo uda cape main di jalanan vila, ya nontonin kembang api orang lain aja di gazebo. Malam itu biasanya kami tidur larut malam, karena suara kembang apinya berisik, haha.

Besoknya biasanya kami uda beres-beres vila lagi, karena harus kembali ke Jakarta. Kami, kembali pagi-pagi setelah sarapan, disaat jalanan belum macet. Di perjalanan pulang kami suka mampir Masjid Atta’awun. Masjid yang dikelilingi perkebunan teh. Omong-omong soal kebun teh, suatu saat saya pernah diajak orangtua saya untuk jalan kaki mengikuti jalan setapak di kebun teh. Kalo dari jauh keliatannya deket ya. Tapi pas dijalanin, cape juga, jauh juga, dan tinggiii. Pemandangan saat uda di atas, masyaAllah indah banget. Tapi kalo diulang berkali-kali ya ogah, wkwk. Siangnya biasanya kami uda sampai di Jakarta lagi.

Liburan singkat 3 hari 2 malam, di akhir tahun, dengan berbagai rutinitas rutin, merupakan pengalaman yang indah buat saya. Terutama karena saya menjalaninya dengan kedua orangtua dan adik-adik saya. Kapan lagi kami bersantai dan berkumpul seperti itu kalo bukan pas liburan. Vila itu juga menyimpan memori saya yang lain. Memori dengan geng cewe-cewe saat saya SMP, dimana Meteor Garden lagi tenar-tenarnya, sampe kami bawa seabrek DVD Meteor Garden buat maraton nonton. Ibu saya yg saat itu mendampingi ga habis pikir, ini bocah-bocah uda jauh-jauh ke Puncak, malah di vila doank nontonin cowo-cowo Taiwan, sambil nangis-nangis pula, wkwk. Juga memori dengan teman-teman kuliah saya. Teman-teman seperjuangan suka duka di kedokteran, yang saat di vila memakai pakaian biasa tanpa jas putih juga stetoskopnya, sementara melupakan segala diktat untuk menikmati liburan layaknya mahasiswa biasa. It was a short but meaningful getaway.

Vila itu sudah lama dijual oleh orangtua saya, karena semakin dewasa, saya dan adik-adik saya semakin “sibuk” dengan urusan masing-masing. Saya ingat, saat itu kedua orangtua saya terlihat cukup berat untuk menjualnya. Saat itu saya ga ngerti kenapa. Toh itu hanya properti diantara properti lain yang mereka miliki. Namun, sekarang saya paham, vila itu memiliki banyak memori, disaat kami sekeluarga kompak liburan bareng, dan bisa menikmati hal-hal sederhana.

Ada 1 hal yang paling berkesan buat saya. Orangtua saya sering membeli dari pedagang kecil. Seperti pedagang majalah di restoran ponyo, pedagang gemblong di jalan dan di area vila juga masjid, pedagang semprong, cobek, dll. Kadang barang/makanan yang dibeli dipakai/dimakan, kadang juga dikasih lagi ke orang lain. Seringnya para pedagang itu uda kakek nenek. Saya ingat ada pedagang jagung langganan ibu saya, sudah tua, tapi kalo senyum ceraaaah sekali. Semakin dewasa, saya tau kalau ibu saya hampir selalu memberi lebih saat membayar. Kebiasaan sedekah itu saya perhatikan terus, dan akhirnya ga sadar saya ikuti juga. Saya jadi paham istilah “children see, children do”. Hal-hal yang mungkin terlihat sepele, tapi dilakukan berulang-ulang di depan anak, bisa menginspirasi anak melakukan hal yg sama.

Semoga saya bisa memberikan memori yang baik ke Rafa, seperti kedua orangtua saya kepada saya saat kecil dulu. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayani shogiro.

Tolong! Anak saya SPD!

Pertama, tarik nafas, buang nafas, perlahan.. Calm down.. It’s not the end of the world.

Jika Anda sudah tenang, maka langkah selanjutnya yaitu..

SEGERA periksakan anak Anda ke ahlinya

Dengan kemudahan mencari ilmu dengan ‘mbah google’, jangan mendiagnosis sendiri, pastikan kepada ahlinya. Siapa? Bisa dokter maupun psikolog di klinik tumbuh kembang anak. Beberapa klinik tumbuh kembang anak yg saya tahu yaitu:

  • Klinik Anakku (Jakarta): Jl. Raya Mandiri Tengah Blok M4D Kav. 1-2, Kelapa Gading Permai, RT.13/RW.18, Klp. Gading Tim., Kec. Klp. Gading, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240. Whatsapp: 08111799288.
  • Klinik Pela 9 (Kebayoran, Kemang, Tomang, Bintaro) https://www.klinikpela9.com
  • Klinik Rainbow Castle (Jakarta): Jl. Zamrut Raya No.28, RT.5/RW.4, Sumur Batu, Kec. Kemayoran, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10640. Whatsapp: 081366900400.
  • Klinik Lalita (Bekasi, Alam Sutera) https://kliniklalita.com
  • Klinik tumbuh kembang di RS Hermina
  • Klinik Suryakanti (Bandung, Jawa Barat): Jl. Terusan Cimuncang, Sukapada, Kec. Cibeunying Kidul, Bandung, Jawa Barat 40125. Telepon: 022 7232369. https://suryakanti.or.id/en/

Saat Anda merasa anak Anda mungkin mengalami SPD (Sensory Processing Disorder), lakukan pemeriksaan secepat mungkin. Semakin cepat anak Anda terdiagnosis SPD, semakin dini terapi dilakukan, insyaAllah hasilnya lebih baik.

Terima kondisi anak Anda

Jika setelah Anda memeriksakan anak Anda ke ahlinya, dan anak Anda didiagnosis SPD, maka terimalah dengan lapang dada. Anak Anda dititipkan Allah kepada Anda, berarti Allah percaya bahwa Anda bisa mendidiknya dengan baik. Seorang sahabat saya, Novi, pernah bilang: anak spesial untuk orangtua spesial. Jangan berkecil hati hanya karena anak kita ‘berbeda’. Allah sudah menciptakan anak kita dengan kondisi terbaik. Tugas kita sebagai orangtua untuk memberikan pendidikan yg terbaik yg kita mampu, agar anak kita bisa berkembang optimal sesuai potensinya.

Jalani terapi offline dan online

Bagaimana dengan terapinya? Dalam kondisi pandemi saat ini, terutama di Indonesia, sulit untuk terapi offline, karena risiko tertular covid19 sangat besar. Walaupun mungkin tidak seoptimal terpai offline, jalani terapi online dengan baik, dan jika bisa dampingi anak. Setelah pandemi usai, dan terapi offline dibuka kembali, ikuti jadwalnya dengan baik. Jika disarankan 2x atau 3x seminggu, jalani. Jika ‘hanya’ disarankan 1x seminggu, jalani. Dokter dan terapis akan mengevaluasi hasil terapi setiap 3 bulan, apakah jadwal terapinya sudah cukup/belum, dan bagaimana perkembangan anak kita.

Jangan lupa lakukan home therapy

Setiap selesai sesi terapi, biasanya terapis akan memberikan beberapa latihan/aktivitas untuk dilakukan di rumah (home therapy). Sesi terapi dengan terapis biasanya sekitar 1 jam. Sementara waktu kita dengan anak kita di rumah jauh lebih banyak. Manfaatkan waktu di rumah dengan melakukan home therapy, insyaAllah perkembangan anak lebih cepat maju.

Syukuri setiap perkembangannya

Membandingkan anak kita dengan anak lain yang tipikal/tanpa SPD adalah BIG NO! Sudah jelas anak kita berbeda pada banyak hal. Membanding-bandingkan hanya membuat kita stres, yang pada akhirnya anak kita ikutan stres. Bersyukur atas setiap kemajuan pada perkembangan anak kita, walaupun terlihat sedikit kemajuannya. Bersyukur membawa dampak positif bagi kita dan anak.

Jangan menghentikan terapi sendiri

Seringkali, karena kemajuan perkembangan anak yang sepertinya minim, kita jadi tidak percaya dengan dokter/psikolog/terapis. Komunikasikan kekuatiran Anda kepada mereka, diskusikan baik-baik. Jika setelah diskusi, Anda merasa kurang sreg, silahkan cari klinik tumbuh kembang lain, yang penting jangan berhenti mencari tempat terapi yang cocok untuk anak Anda.

SABAR

Saya tulis huruf besar semua karena memang hal ini modal utama kita sebagai orangtua. Sabar ketika:

  • lingkungan kita (keluarga, teman, dll) tidak mendukung, berkata kita lebay, atau meremehkan “ah nanti juga sembuh sendiri”
  • menanti antrian di klinik tumbuh kembang. Saking banyaknya anak-anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang dan butuh terapi, antrian di berbagai klinik tumbuh kembang kadang bisa berbulan-bulan
  • kita sering ga paham perilaku anak walaupun kita sudah ‘menelan’ berbagai buku, artikel dan bahan bacaan lain mengenai SPD, juga berdiskusi dengan para dokter dan terapis
  • ‘hanya’ sedikit kemajuan perkembangan anak kita saat terapi
  • butuh waktu yang tidak sebentar, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk terapi.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tin: 4)

Jalan Hijrahku

Assalamu’alaykum,

Alhamdulillah saya muslim sejak kecil karena orangtua saya muslim. Itu adalah salah satu nikmat yg sering saya lupakan, karena tidak semua anak bisa menjadi muslim, seperti disebutkan di hadis berikut.

Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Tapiiiii, muslim sejak kecil tidak membuat saya mengenal Allah dengan baik, maupun mengenal agama Islam sepenuhnya. Orangtua saya berusaha mendekatkan saya dengan ajaran Islam, beberapa caranya dengan menyekolahkan saya ke sekolah Islam (TK dan SD), memanggil guru ngaji, mengajarkan solat dan puasa.

Alhamdulillah saya sudah berjilbab sejak SMA, walaupun karena nadzar. Perilaku saya sebelum dan sesudah berjilbab kurang lebih sama, tetep baik (sebatas pengetahuan saya saat itu). Namun, saya belum merasakan nikmat mengenal Islam dan dekat dengan Allah. Saat kuliah, saya sempat ikut liqo, namun seingat saya hanya bertahan beberapa bulan.

Perjalanan hijrah saya mungkin dimulai tahun 2017, saat anak saya, Rafa, berusia 3 tahun, dan mulai bersekolah di playgroup Islam. Saat itu entah bagaimana, saya ditunjuk menjadi koordinator pengajian rutin komite. Pengajian? Seumur-umur ga pernah woy, sekalinya ya pas mau nikah. Waktu itu saya keabisan jurus ngeles, jadinya saya terima aja. Awalnya, saya merasa ingin cepat-cepat ganti koordinator, karena jadi koordinator susah dan riweh. Setelah 1 tahun, disaat pergantian koordinator, ternyata ga ada yg mau, saya pun terpaksa jadi koordinator lagi. Fast forward, saat ini 2021, dan alhamdulillah sudah masuk tahun ke 4 saya jadi koordinator pengajian. Apakah mudah? Tidak. Pengajian ini dari sekitar 20an peserta, saat ini yg aktif mungkin hanya 4-5. Kenapa saya pertahankan? Saya ingat, sebenernya jumlah Nabi itu ada ratusan, tapi yg kita kenal hanya 20an. Nabi pun ada yg sampai akhir hayatnya tidak memiliki pengikut. Lalu apakah Nabi tsb gagal? Tidak, Allah menilai dari usaha, bukan hasil. Suami saya pun mengingatkan, mengajak orang pada kebaikan dapat pahala. Ustadzah Hinda pun mengingatkan, di setiap majelis ilmu akan datang malaikat yg mendoakan sampai selesai. Saya terlihat rugi dengan jumlah peserta pengajian yg sedikit, tapi luruskan niat untuk mendapat pahala yg banyak, menuntut ilmu agama, meraih ridha Allah, insyaAllah saya untung besar.

Langkah hijrah saya berikutnya sekitar tahun 2018, saat saya tetiba diajak mba Intan (ipar sepupu suami saya; kerabat jauh pokoknya, yg cuma ketemu pas idul fitri) untuk ikut kelas bahasa arab bareng. Saat itu saya berpikir, apaan lagi nih, tahun lalu ‘kejebak’ jadi koordinator pengajian, tahun ini diajak kelas bahasa arab? Karena saya ga sibuk, jadi saya iyain aja ajakan mba Intan. Disitu saya diajar oleh Ustadzah Wahyuni, yg belajar bahasa arab di LIPIA selama 7 tahun, masyaAllah. Apakah mudah? Nope, perjuangan banget tiap minggu pagi jam 8-10 les arab. Pesertanya pun dari sekitar 20an, saat ini 2021 tinggal 5: saya, Nory, mba Silfi, mba Anik, dan bu Chichi.

Masih di tahun 2018, saya lupa dikasih tau siapa tentang grup wa HSI Abdullah Roy. Jadi belajar tentang Islam dari dasar banget, tauhid, rukun iman, dll. Materinya berupa audio 5-10 menit setiap hari kerja. Ada evaluasi harian, pekanan, dan akhir. Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa mengikuti grup tersebut. Materi saat ini tentang Sirah Nabawiyah bagian 2. Buanyak buanget nama, tempat, ayat dan hadis yang dipelajari. Semoga masih bisa lanjut ke materi selanjutnya.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Tahun 2019, saya ikut Story Night Ustadz Nouman Ali Khan. Beliau bercerita tentang surat-surat di al qur’an, dengan gaya dan alur yang menurut saya sangat menarik. Saat itu saya mulai menyadari betapa menakjubkannya al qur’an, hanya saja saya yg belum memahaminya dengan baik. Apakah mudah? Acaranya 4 jam, tapi saya sudah antri sejak 2 jam sebelum acara supaya dapet tempat duduk depan banget. Perjuangan yes. Saat itu sebenarnya ada program Dream, yaitu belajar bahasa arab selama 10 hari. Tapi saat itu saya ga kebagian seat. Ustadz Nouman saat itu berkata insyaAllah akan datang lagi ke Jakarta utk mengajar program Dream.

Qadarullah, tahun 2020 pandemi covid, Ustadz Nouman ga jadi dateng ke Jakarta. Tapi sungguh rencana Allah memang yg terbaik. Program Dream dari Bayyinah Institute justru bisa diikuti secara online, bahkan video-videonya diupload di media sosial seperti youtube dan facebook, gratis! Ga perlu antri berjam-jam, macet-macetan ke venue, bisa belajar bahasa arab al qur’an kapan pun saya lowong. MasyaAllah tabarakallah.

Saat ini 2021, alhamdulillah saya diberikan kemudahan oleh Allah, jadi masih ngaji dan les arab mingguan, masih HSI, dan ikut program Dream. Cape? Tentu. Bukankah lebih baik cape mengerjakan sesuatu yang baik? Intinya saya ingin cerita, bahwa perjalanan hijrah saya sampai sekarang masih berlangsung, tetap banyak perjuangannya, sering juga rasanya mau berhenti aja. Alhamdulillah Allah pertemukan saya dgn teman-teman yg sama-sama berjuang, dan saya merasakan hidup saya lebih tenang dgn jalan hijrah yg saya ambil ini. Saya harap sampai saya meninggal tetap berada di jalanNya yg lurus, yg diridhai olehNya. Aamin ya rabbal ‘aalamiin.

Referensi

https://almanhaj.or.id/3466-orang-tua-bertanggung-jawab.html

https://rumaysho.com/2544-faedah-tauhid-5-allah-selalu-mengingat-hamba-yang-mengingat-nya.html

Oia, untuk yang mau ikutan program Dream dari Bayyinah Institute yang diajar oleh Ustadz Nouman Ali Khan, berikut link-nya ya. Gratis!

Liburan Di Rumah Aja

  • kolase bioskopBioskop #liburandirumahaja

Credits to @nonannymommy dan pinterest! Kata kuncinya movie night ideas.

Desain poster, tiket, dll pakai aplikasi canva.

Sebelum nonton, yg anak-anak role play jadi penjual tiket dan snack, pakai uang mainan.

Buat orang dewasanya ada games tebak-tebakan yg hadiahnya uang mainan (buat beli tiket & snack).

Ruang “bioskop” (alias ruang tv) jendelanya dibuka 1 (ada kawat nyamuknya), pintu juga dibuka supaya ventilasinya bagus.

Saya memang tinggal dgn extended family, tapi di dalam rumah pun kami biasa selalu pakai masker, krn suami saya kerja di salah satu RS rujukan covid, ipar pun kadang wfo, jadi kami selalu pakai masker demi orgtua kami yg sudah lansia dan anak-anak kami.

Liburan di rumah aja bisa tetep menyenangkan!

  • treasure huntTreasure hunt! #liburandirumahaja

Kali ini EO-nya @damayanti.anindita, saya jadi sie dokumentasi aja.

Treasure-nya itu berupa bola-bola kayu yg dibungkus kertas supaya ga terlalu kecil ukurannya. Bola-bola ini disembunyikan di penjuru rumah. Rencana awal ini gamesnya buat anak-anak aja. Tapi si bocah 2 ini malah lari-lari keliling rumah, ga nemu-nemu, akhirnya eyang2nya ikutan main.

Setelah ketemu semua, bola-bolanya bisa ditukar hadiah kayak kita nukerin koin timezone. Hadiahnya snack seperti ielly, permen yupi, coklat, dll.

Mayan “rusuh” pas nyari treasure-nya karena tante @damayanti.anindita jago ngumpetinnya. 

  • berkebunBerkebun! #liburandirumahaja

Idenya @nonannymommy yg uda duluan nanem dan uda mulai tumbuh tunas. 

Btw pas awal pandemi, saya ajak anak saya berkebun dgn cara hidroponik. Waktu itu nanem kangkung, selada dan bayam merah. Kangkung dan selada alhamdulillah tumbuh, yg bayam merah entah kenapa kecil terus. Tapi hidroponik terlalu sulit buat anak kecil, krn harus menakar cairan nutrisi A dan B, ppm-nya diukur dan disesuaikan dgn tahapan tumbuhnya. Riweh. 

Pas @nonannymommy ngajakin anak-anaknya berkebun, saya liat koq kit berkebunnya cute banget, ukurannya juga pas buat anak-anak. Akhirnya saya ikutan beli kitnya @urban_garden.id. Kita dapet 3 macem sekop mini, 1 botol utk menyiram, 4 pot mini, 4 bungkus tanah, 4 macem biji, dipilihin yg gampang numbuh: kangkung, wheatgrass, bayam hijau dan selada.

Oia, kita juga dapat 4 lembar pengamatan progess tumbuh tanemannya, bahannya mayan tebel, ga gampang kerobek sama anak. Worth it kit-nya. Semoga bisa tumbuh subur ya tanemannya!

  • kolam bolaKolam bola! #liburandirumahaja

Kalo bosen main air, kolamnya bisa diisi bola, jadi deh kolam bola ala playground mall kw1000.

  • coding

Selain kegiatan fisik, ada juga holiday program online, contohnya kelas coding dari Sekolah Cikal. Anak saya tidak bersekolah disana, tapi alhamdulillah holiday program Cikal bisa diikuti umum. Dengan judul “NASA Mission to Lunar”, anak diajak mengenal lebih dekat profesi astronot NASA. Coding-nya pun berkaitan dengan perjalanan astronot ke bulan, dimana anak seolah-olah sedang menjalankan misi layaknya seorang astronot. Seru!

Dengan kita liburan di rumah aja, insyaAllah bisa mencegah penyebaran covid19. Saya lebih memilih ribet dikit menyiapkan aktivitas liburan di rumah dibandingkan mengambil resiko besar mengajak anak berlibur ke tempat umum. Ini pilihan, yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. 

Corona Masih Ada

Assalamu’alaykum.

Semoga semua dalam keadaan sehat wal’afiat ya. Saya cuma mau mengingatkan di masa liburan ini tetap waspada covid. Kalau di luar tetap pakai masker, jangan dibuka walaupun cuma buat foto (uda banyak yg tertular karena ini), dan sebisa mungkin di rumah aja. 

Btw tau ga covid nama lainnya apa? Penyakit 1000 wajah. Kenapa? Karena saking beragam gejalanya. Kalau yg khas kehilangan penciuman, batuk, sesak nafas, tapi bisa juga diare, pegel-pegel, lemes, kulitnya kemerahan, bahkan serangan jantung dan stroke. Tau telinga berdenging? Ternyata bisa jadi gejala covid juga. 

Saking beragam gejalanya, dan mayoritas tanpa gejala/sakit ringan, banyak sekali yang ga terdeteksi.

“Ah covid cuma flu biasa, ntar juga sembuh, saya sehat dan masih muda.” Benarkah?

Jika terinfeksi covid, walaupun gejala ringan, bukan berarti badan kita ga rusak, 

bukan berarti kita 100% ga bakal nularin org lain yg kita sayang, 

bukan berarti badan anak-anak atau orgtua kita yg ketularan ga rusak, 

bukan berarti pasti sembuh, 

bukan berarti ga mungkin sakit berat, 

bukan berarti kita ga bisa kena covid lagi (uda banyak kasusnya).

Virus corona mengalami 1-2 mutasi setiap bulan, namun baru-baru ini di Inggris ditemukan virus corona dgn 17 mutasi sekaligus. Astagfirullah. 

Corona masih ada, di Indonesia belum terkendali, bahkan sudah banyak RS rujukan covid yang penuh. Yuk ajak keluarga dan kerabat jadi bagian dari solusi dengan di rumah aja. Kalau mau dapat info covid yg mudah dimengerti dan update bisa follow instagram @pandemictalks, @adamprabata, @laporcovid19, @kawalcovid19.id, @perupadata.

Semoga kita yg setia di rumah aja mendapat pahala syahid. Aamiin. 

dr. Diana Andarini

Referensi

https://www.thelancet.com/article/S1474-4422(20)30272-6/fulltext 

https://link.springer.com/article/10.1007/s00405-020-06440-7 

https://www.sciencemag.org/news/2020/12/mutant-coronavirus-united-kingdom-sets-alarms-its-importance-remains-unclear 

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55400874 

https://rumaysho.com/23663-di-rumah-saja-saat-wabah-tetap-dapat-pahala-syahid.html 

Review Buku “Tentang Aku”

tentang aku

Baca buku ini jadi inget perjalanannya Rafa. Rafa dulu speech delay, dengan diagnosis gangguan bahasa ekspresif, yang disebabkan gangguan sensori integrasi (-red saat ini disebut SPD/Sensory Processing Disorder). Itu adalah diagnosis dari Prof. Hardiono Pusponegoro, dokter dan pemilik Klinik Anakku. Pusing? Kaget? Bingung? Itu yang saya alami saat pertama kali mendengar istilah-istilah tersebut. Apa pula ini gangguan sensori yang bisa bikin anak ga bisa ngomong? Sensori? Panca indera yang 5? Terus apa hubungannya? 

Setelah konsul dengan Prof. Hardiono, Rafa diobservasi oleh Tante Titi, terapis okupasi di Klinik Anakku. Dalam 1 jam observasinya, Tante Titi bisa “menebak” berbagai masalah sehari-hari Rafa. Saat menjelaskan hasil observasi Rafa, Tante Titi memberikan saya piramida seperti di bawah ini. 

piramida SI

Ternyata sistem sensori ada 8: visual, olfaktori, auditori, gustatori, taktil, vestibular, proprioseptif, dan interoseptif. Kedelapan sistem sensori ini bekerja sama (berintegrasi). Sensori integrasi yang baik itu penting sebagai basic atau pondasi semua skill. Kemampuan bicara dan bahasa itu ada di bagian atas piramida. Jadi gimana anak mau ngomong kalo pondasinya (sensori integrasi) itu masih berantakan? 

Sebelumnya saya cukup sering mendengar sensory play, tapi ga pernah saya perhatikan dengan baik, karena saya kira itu ga penting. Ternyata itu penting sekali. Jaman nenek moyang kita gada istilah sensory play, karena emang mereka main biasa di alam pun otomatis uda sensory play. Generasi sekarang? Anak pertama dikekepin di dalem rumah, bersiiihh, boro-boro main pasir/tanah, keluar sebentar main di rumput aja ibunya parno (saya banget ini). Alhasil si anak kurang stimulasi. TAPI penyebab SPD bukan cuma kurang stimuli, sebaiknya periksa ke ahlinya (dokter tumbuh kembang, rehabilitasi medik, psikolog). Pada kasus Rafa, ternyata Rafa autis ringan, dan 70-80% anak ASD (Autism Spectrum Disorder) mengalami SPD. 

Setelah diagnosis SPD saat Rafa usia 1.5 tahun, maka dilanjutkan dengan terapi SI, terapi wicara, dan terapi okupasi. Saat usia 3 tahun, biidznillah alhamdulillah Rafa mulai lancar bicara. Saat usia 4 tahun sudah catch-up kemampuan bicara dan bahasanya. Saat usia 5-6 tahun, Rafa belajar bahasa Inggris dari youtube sendiri, sampe saya konsul bolak balik ke dokternya, ini gapapa Rafa bilingual? Katanya gapapa selama bahasa ibu (Indonesia) uda ajeg. Saat pemeriksaan kecerdasan di sekolahnya, yang menonjol di Rafa adalah kecerdasan linguistik. MasyaAllah. Memang ya kalau Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. 

Saat ini di usia 7 tahun, Rafa alhamdulillah fasih berbahasa Indonesia dan Inggris, bahkan logatnya jauh lebih bagus daripada saya. Bagaimana SPD-nya? Masih ada, tapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Sama seperti si anak di buku “Tentang Aku” yang pada akhirnya bisa melakukan berbagai kegiatan dengan nyaman. MasyaAllah, alhamdulillah. 

Buat ibu-ibu yang anaknya SPD, buku ini bisa memberikan sedikit gambaran tentang apa yang dialami anak, dan menjelaskan kepada anak tentang kondisinya. Jazaakumallahu khayran dr. Adilla Hikma dan mba Diani Apsari uda membuat buku ini.

Pantang Menyerah

1543354435182

Pantang menyerah. Lagi-lagi kata yang mudah diucapkan, tapi butuh perjuangan untuk mencapainya. Pantang menyerah dalam hal apa? Kebaikan, terutama yg bernilai pahala. Kalo orang merokok pantang menyerah dalam merokok, padahal jelas-jelas merugikan diri & orang sekitarnya, masa’ yg berjuang dalam kebaikan kalah semangat 🙂

Ada satu hal yg sangat saya syukuri, yaitu saat saya pantang menyerah memberikan terapi untuk Rafa, anak saya. Seperti yg sudah saya ceritakan sebelumnya, Rafa dulu mengalami gangguan sensori integrasi, yg menyebabkan perkembangan bicara dan bahasanya terlambat. Rafa diperiksa oleh dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang dan dokter spesialis rehabilitasi medik di Hermina saat berusia 15-16 bulan. Saat itu Rafa didiagnosis mengalami gangguan sensori integrasi dan gangguan bahasa ekspresif. Saat itu pula “perjalanan” terapi Rafa dimulai.

Kalau dibilang saat yang paling berat adalah saat memulai sesuatu, saya setuju banget. Apalagi saat sesi terapi, Rafa menangis terus. Rasanya pengen berhenti saja terapinya. Tapi saya ingat kata-kata para dokter spesialis yg memeriksa Rafa, juga berbagai literatur yg saya baca, bahwa usia 2-3 tahun pertama anak adalah masa emas (golden period) tumbuh kembang anak. Kalau sudah lewat masa emas, akan lebih sulit bagi anak untuk berkembang. Saya pun menguatkan diri dan terus menyemangati Rafa.

6 bulan berlalu, alhamdulillah ada perubahan pada perilaku dan emosi Rafa, namun tidak ada perubahan yg bermakna pada bicaranya. Saya pun stres karena Rafa sudah berusia 2 tahun. Masa emas-nya tinggal 1 tahun lagi. Saya pun mencari tempat terapi lain, dan banyak yg merekomendasikan Klinik Anakku. Namun antrian disana 2-3 bulan (ini baru ketemu dokternya), kemudian antri lagi untuk jadwal terapinya (sekitar 2-3 bulan juga). Setelah diperiksa Prof.Hardiono, diagnosisnya sama, masih gangguan bahasa ekspresif dengan gangguan sensori integrasi. Sambil menunggu jadwal terapi di Klinik Anakku, Rafa tetap meneruskan terapi di Hermina.

6 bulan kemudian, saat Rafa berusia 2,5 tahun, kata pertama yg bisa Rafa ucapkan yaitu “Bunda”, masya Allah. Namun, tidak ada perkembangan lain yg berarti. Saya juga belum mendapat jadwal terapi Rafa di Klinik Anakku. Saya kontrol ke Prof.Hardiono. Disini saya sempat sangat sedih dan merasa gagal sebagai ibu. Beliau tampak frustasi krn Rafa hanya bisa 1 kata yg jelas, dan belum juga diterapi di Klinik Anakku. Dengan bantuan beliau, Rafa akhirnya mendapat jadwal di Klinik Anakku. Betapa leganya saya saat mulai sesi terapi di Klinik Anakku, Rafa tidak menangis, hanya sesekali merengek. Rafa terlihat bersemangat menjalani terapinya.

6 bulan lagi berlalu, Rafa berusia 3 tahun. Alhamdulillah Rafa mulai menunjukkan perkembangan bahasa dan bicara. Biarpun masi belum jelas pelafalannya, tapi Rafa sudah “bawel”. The doctor even gave his thumbs up (literally). Sepanjang sesi kontrol, Prof.Hardiono tampak lega dan bangga pada Rafa. Pada tahap ini, beliau mempersilahkan jika Rafa ingin berhenti terapi karena perkembangannya sudah baik. Bahkan sempat dibilang bahwa untuk anak seperti Rafa, kemampuan bicara seperti itu sudah “bagus”. Di satu sisi, saya bersyukur bahwa perkembangan Rafa baik, tapi di sisi lain, saya merasa Rafa masih bisa berkembang lagi. Saya dan suami memutuskan untuk melanjutkan terapi Rafa.

6 bulan lagi berlalu, Rafa berusia 3,5 tahun. Saya selalu terharu dan sangat bersyukur setiap mengingat masa-masa ini. 2 tahun setelah terapi, perkembangan bicara dan bahasa Rafa sangat pesat. Saya mulai keteteran mengisi buku catatan kosakata Rafa, saking banyaknya pertambahan kosakata Rafa, alhamdulillah. Oia, saat itu Prof.Hardiono hanya menangani pasien baru dan pasien “sulit”, pasien lainnya dipercayakan ke dr.Selly dan bu Anita. Saat kontrol ke dr.Selly (dokter anak) dan bu Anita (psikolog), mereka tampak takjub dengan perkembangan Rafa. Mereka sangat ramah dan keibuan, Rafa tampak nyaman ngobrol dengan mereka. Mereka kemudian memutuskan bahwa Rafa sudah lulus terapi sensori integrasi. Dan Rafa mulai menjalani terapi wicara di rumah (home therapy), dengan orangtua sebagai “terapis”nya.

3 bulan berlalu, namun perkembangan bicara dan bahasa Rafa dari home therapy kurang optimal. Akhirnya Rafa terapi wicara di Klinik Anakku, dengan terapis Tante Yanti. Seperti terapis lain di Klinik Anakku, Tante Yanti sangat ramah, cepat dekat dgn anak, juga energetik. Adaaa saja idenya Tante Yanti mengajak Rafa mengikuti berbagai latihan yg terus berulang. Alhamdulillah, perkembangan bicara Rafa semakin baik lagi. Setiap kontrol ke dr.Selly dan bu Anita pun, mereka memuji perkembangan Rafa.

Hingga akhirnya, saat Rafa berusia 4,5 tahun, Rafa dinyatakan lulus terapi wicara. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Setelah 3 tahun diterapi, Rafa akhirnya lulus. Dan 3 tahun bukanlah waktu yg singkat, apalagi utk Rafa yg masih balita. Hampir seluruh hidupnya (saat itu) diisi dgn terapi (baik di klinik maupun di rumah). Mengutip dari ig-story @loveshugah, anak itu guru kehidupan, kita bisa belajar banyak melalui anak. Pantang menyerah. Rafa yg masih balita sudah memiliki semangat itu. Masya Allah.