Kenapa?

Saat saya merasa kalut dengan berbagai kekuatiran akan masa depannya, 

Bagaimana jika ini dan itu menimpanya?

Saat saya merasa bersalah dengan pengasuhan yang saya berikan selama ini, 

Apakah sudah cukup? Apakah banyak yang terlewatkan? 

Kemudian ia menatap saya dengan kedua mata jernihnya, dengan jiwa yang masih suci juga bebas dosa, lalu berkata: “Bunda kenapa? Kenapa sedih? Kuatir kenapa?”

Seolah-olah saya diingatkan lagi, bahwa semua berjalan sesuai kehendak Allah. Semua yang sudah dan akan terjadi pada manusia, sesungguhnya sudah tertulis di lauhul mahfuz 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan olehNya. Tugas kita sebagai hamba, berusaha sebaik mungkin dengan niat lillahi ta’ala.

Seolah-olah saya diingatkan lagi, tidak usah kuatir. Semua kejadian yang menimpa seorang hamba sudah terukur kadarnya, tidak mungkin lebih.

Kemudian ia memegang tangan saya dengan tangan mungilnya, lalu memeluk saya. Seolah-olah meyakinkan lagi, bahwa saya tidak perlu kuatir, ada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 

Leave a Comment

Your email address will not be published.